Jalan Libertarian Menuju Egalitarianisme

Oleh: David S. D’Amato. Teks aslinya berjudul “The Libertarian Road to Egalitarianism”. Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Taratsa.

Sebuah studi terbaru dari National Bureau of Economic Research yang dilakukan Emmanuel Saez dan Gabriel Zucman menemukan bahwa “0,1% keluarga [di Amerika Serikat] yang berada di puncak distribusi kekayaan kini memiliki bagian kekayaan yang kira-kira sama dengan 90% keluarga yang berada di bagian terbawah.” Lebih jauh, studi tersebut menunjukkan bahwa “pemulihan” ekonomi yang terus kita dengar ternyata belum sampai kepada kelas menengah. Hanya mereka yang berada di puncak piramida ekonomi yang benar-benar menikmati manfaatnya.

Ketika sebagian kecil penduduk menimbun begitu banyak kekayaan negara, para pakar kebijakan dan akademisi sibuk mencari pihak yang harus disalahkan sekaligus menawarkan berbagai solusi. Seperti yang bisa diduga, pasar bebas kemudian menjadi sasaran kritik sebagai sumber semakin lebarnya ketimpangan kekayaan dan pendapatan. Sebagai pendukung deregulasi dan pasar bebas, kaum libertarian sering dituduh hidup dalam dunia fantasi dan menutup mata terhadap persoalan ketimpangan.

Kami, kaum libertarian, sebenarnya ikut memperburuk keadaan. Ketika persoalan ini tak terhindarkan muncul, terlalu banyak dari kami justru terlihat gelisah dan bersikap defensif dengan bersikeras bahwa ketimpangan sama sekali bukan masalah, bahwa yang seharusnya kita lihat adalah standar hidup atau ukuran lainnya. “Kapitalisme sangat baik bagi orang miskin—sumpah!” Kaum libertarian harus menerima kenyataan yang pahit bahwa ketimpangan memang merupakan persoalan yang sangat besar.

Namun, kita tidak perlu memandang ketimpangan sebagai titik lemah dalam argumen kita mengenai kebebasan ekonomi, atau sebagai persoalan yang tidak mungkin kita menangkan. Hubungan ekonomi yang ada saat ini bukanlah hasil dari kebebasan pertukaran maupun kepemilikan pribadi yang sah. Justru kaum libertarian berada pada posisi yang kuat dalam persoalan ketimpangan. Kebebasan dan kesetaraan pada kenyataannya saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain; yang pertama secara alamiah menghasilkan yang kedua.

Kaum anarkis individualis seperti Lysander Spooner berpendapat bahwa “ekstrem dalam kekayaan maupun kemiskinan” merupakan hasil dari “legislasi positif”, yakni ketika hukum-hukum arbitrer menggantikan hukum alam dan “menciptakan monopoli serta privilese”. Dalam kapitalisme, menurut Spooner, pemilik modal memperoleh kekuasaan khusus dalam perekonomian—kekuasaan yang tidak ada hubungannya dengan kebebasan sederhana untuk memproduksi, bertukar, dan berkompetisi. Jika dilihat secara menyeluruh, intervensi negara pada akhirnya menguntungkan orang-orang kaya dan mereka yang memiliki koneksi politik, yakni elite ekonomi yang mempunyai akses khusus kepada mereka yang membuat dan menjalankan aturan yang harus kita semua patuhi.

Intervensi-intervensi tersebut memang tidak selalu sempurna, dan sistem kapitalisme monopoli di negara ini tentu dilapisi dengan berbagai kebijakan yang secara formal dimaksudkan untuk melindungi pekerja, konsumen, dan masyarakat miskin. Namun, tidak satu pun kebijakan tersebut mengubah tujuan mendasar intervensi negara: merampas hak para pemilik yang sah dan menempatkan massa masyarakat dalam posisi bergantung pada para pemberi kerja. Singkatnya, tujuan historis negara adalah perang kelas yang permanen, yakni penggunaan kekuasaan negara untuk melindungi sebuah kelas bangsawan sosial-ekonomi.

Karena itu, kaum kiri sebenarnya cukup tepat dalam persoalan ketimpangan, meskipun mereka cenderung keliru dalam memahami kebebasan, hak-hak individual, dan pasar. Kaum anarkis pasar menghendaki keduanya, kebebasan dan kesetaraan, dengan memperjuangkan masyarakat tanpa negara yang menjadikan kesetaraan dalam kebebasan dan otoritas sebagai hukum tertingginya.

Persaingan yang benar-benar terbuka merupakan kekuatan yang membubarkan sekaligus menyebarkan konsentrasi kekuasaan. Kaum libertarian seharusnya berhenti mencari-cari alasan untuk membenarkan ketimpangan yang luar biasa besar saat ini, seolah-olah kita sampai pada kondisi ini melalui laissez-faire dan kedaulatan individu.

Seluruh hasil publikasi didanai sepenuhnya oleh donasi. Jika kalian menyukai karya-karya kami, kalian dapat berkontribusi dengan berdonasi. Temukan petunjuk tentang cara melakukannya di halaman Dukung C4SS: https://c4ss.org/dukung-c4ss.

Anarchy and Democracy
Fighting Fascism
Markets Not Capitalism
The Anatomy of Escape
Organization Theory