Oleh: Julianna Neuhouser. Teks aslinya berjudul “An Orientalist History of Transmisogyny”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.
Support Ringo by considering becoming his Patron.
Salah satu buku yang paling banyak dibicarakan dalam penerbitan bertema trans belakangan ini adalah A Short History of Trans Misogyny karya Jules Gill-Peterson. Buku ini terbit di tengah gelombang penolakan global terhadap hak-hak trans, dalam sebuah lanskap politik yang ganjil karena mempertemukan figur-figur yang secara ideologis tampak berjauhan, mulai dari tokoh liberal seperti J.K. Rowling hingga politisi sayap kanan jauh seperti Javier Milei. Buku ini mengklaim ingin menjelaskan bagaimana dunia kita hari ini terbentuk, sebuah dunia di mana kebencian terhadap transfeminitas menjadi begitu efektif dan berguna secara politik. Banyak pembaca tampaknya sepakat dengan klaim tersebut, tercermin dari pujian di sampul buku yang datang dari nama-nama besar seperti Torrey Peters, Shon Faye, dan Susan Stryker.
Harus diakui, Gill-Peterson berusaha dengan serius menempatkan transmisogini dalam kerangka sejarah jangka panjang. Ia mencoba membaca kepanikan moral transmisoginis di awal abad ke-21 sebagai kelanjutan dari sejarah kekerasan kolonial, dengan fokus utama pada Amerika Serikat sebelum Perang Saudara. Namun ironi mulai muncul ketika ia memperluas pandangannya ke Global South, terutama Amerika Latin. Alih-alih menghadirkan sejarah yang berpijak pada realitas lokal, pendekatannya justru terjebak pada penghapusan dan romantisasi. Kekerasan nyata yang dialami perempuan trans dan individu transfeminin di luar pusat kolonialisme diremehkan, sementara cara hidup mereka justru diidealkan. Jika meminjam kerangka Edward Said, kesimpulan buku ini lebih mencerminkan cara Amerika Utara memandang Amerika Latin sebagai ruang fantasi pembebasan seksual, bukan sebagai wilayah yang luas, sangat beragam, dan memiliki sejarahnya sendiri yang kompleks.
masalahnya sebenarnya sudah tampak sejak awal. Gill-Peterson memulai analisisnya tentang imperialisme dan transmisogini bukan dari penaklukan Spanyol dan Portugis atas benua Amerika, melainkan dari sekitar masa Pemberontakan India tahun 1857, hampir tiga dekade setelah runtuhnya Kekaisaran Spanyol. Pilihan ini secara efektif menghapus sejarah panjang kekerasan kolonial anti-trans di wilayah yang kini dikenal sebagai Amerika Latin. Ia menulis bahwa “hubungan baru antara laki-laki dan transfeminitas sedang terbentuk” dalam konteks kekerasan imperial abad ke-19, seolah-olah relasi semacam itu belum terbentuk berabad-abad sebelumnya di banyak wilayah dunia yang justru ia abaikan.
Padahal, tanpa perlu riset arsip yang rumit, bukti-bukti kekerasan tersebut sudah sangat jelas. Bahkan dalam teks sejarah tingkat sarjana seperti The True History of the Conquest of New Spain karya Bernal Díaz del Castillo, terdapat banyak catatan bernada jijik tentang apa yang disebut sebagai “sodomi” dalam masyarakat Mesoamerika, serta laporan mengenai upaya para conquistador untuk memberantas praktik-praktik seksual yang masuk dalam kategori tersebut, “karena terdapat banyak anak laki-laki yang berpakaian seperti perempuan dan mencari uang dari perdagangan terkutuk itu.” Kekerasan transmisoginis ini tidak berhenti pada fase awal penaklukan, melainkan berlanjut sepanjang era kolonial. Salah satu kasus paling terkenal adalah Cotita de la Encarnación, seorang crossdresser Afro-Meksiko yang disiksa dan dibakar hidup-hidup di Mexico City pada tahun 1658. Kisahnya bahkan diabadikan dalam sebuah cerita karya Camila Sosa berjudul I’m a Fool to Want You. Mengingat bagaimana Gill-Peterson meromantisasi identitas travesti, orang mungkin berasumsi bahwa ia telah membaca karya Camila Sosa. Namun, asumsi itu tampaknya keliru.
Keterputusan dari literatur di luar Global North ini terus berulang sepanjang buku, dan bertentangan dengan klaimnya sebagai sejarah global. Dalam pengantar, Gill-Peterson mencoba menjawab pertanyaan mengapa misogini begitu sering berujung pada kematian, tetapi tidak mengutip satu pun feminis Amerika Latin. Padahal, femisida dan kondisi struktural yang memungkinkan kekerasan semacam itu merupakan salah satu tema yang paling banyak dibahas dalam feminisme kawasan tersebut. Entah karena atau justru akibat dari ketidaktahuan ini, bagian penutup buku menghadirkan gambaran travesti Amerika Selatan yang sangat orientalis.
Setelah secara sistematis menghapus kekerasan anti-trans yang endemik di kawasan yang justru paling berbahaya bagi individu transfeminin, Gill-Peterson malah menemukan romantisme di sana. Travesti digambarkan sebagai jiwa-jiwa indah dalam pengertian Hegelian, bebas dari keterikatan pada kapitalisme, negara, atau asimilasi heteronormatif. Ia memuji konsep “pengorganisasian yang cukup baik” dari aktivis travesti Argentina Marlene Wayar, tetapi gagal memahami bahwa dalam kondisi hidup yang jauh lebih keras daripada Pantai Timur Amerika Serikat, pengorganisasian semacam itu bisa berarti bergabung dengan partai politik kiri atau beraliansi dengan organisasi feminis radikal anti-perdagangan manusia.
Sebagaimana ditulis oleh filsuf transfeminis Meksiko Siobhan Guerrero Mc Manus, transfeminisme di Amerika Latin bersifat sangat heterogen. Jika dilihat lebih dekat, posisi politik mereka beragam, mulai dari perdebatan tentang subjek politik transfeminisme, posisi berbicara, hingga isu kerja seks, sistem penjara, migrasi, kekerasan, dan keadilan. Di kawasan ini, ada aktivis trans yang memperjuangkan penghapusan sistem penjara dan ada pula yang mendorong hukuman penjara lebih berat sebagai respons atas transfemisida. Ada yang beraliansi dengan feminis radikal melawan pekerja seks, dan ada pula yang berdiri bersama pekerja seks melawan feminis radikal. Ada yang memilih jalur partai politik demi reformasi, dan ada yang bertahan pada anti-asimilasionisme radikal melalui aktivisme jalanan. Ada transmedikalis, dan ada pula yang sepenuhnya menolak kategori gender.
Singkatnya, orang-orang trans di Amerika Latin adalah manusia dengan segala kompleksitasnya. Mereka mengalami keberhasilan sekaligus kegagalan. Seluruh keragaman ini diratakan oleh Gill-Peterson, yang justru menghadirkan subjek homogen yang lebih mencerminkan kegelisahannya terhadap politik queer Amerika Serikat ketimbang realitas krisis politik Amerika Latin sendiri, termasuk peran gerakan anti-gender, sejarah kediktatoran, dan gelombang populisme sayap kanan yang sedang berlangsung.
Ironisnya, buku ini dengan tepat mengkritik romantisasi perempuan trans kulit hitam, dengan menyatakan bahwa mereka kerap diidealkan secara politis oleh orang-orang yang tidak benar-benar mengenal mereka. Namun Gill-Peterson tampaknya tidak menyadari bahwa ia melakukan hal serupa terhadap travesti, dengan mengharapkan bahwa kehadiran mereka semata sudah cukup untuk melahirkan politik yang baik.
Ironi berikutnya adalah bahwa sebenarnya ada banyak hal yang bisa dipelajari komunitas trans di Global North dari travesti, bukan terutama soal identitas, melainkan pencapaian politik mereka. Bertentangan dengan gambaran anti-asimilasionis radikal yang ditawarkan buku ini, Argentina selama bertahun-tahun berada di garis depan perjuangan hak trans. Negara ini menjadi yang pertama mengakui identitas trans melalui mekanisme penentuan diri secara hukum, hingga capaian tersebut runtuh ketika sayap kanan ekstrem berkuasa beberapa bulan lalu.
Dari Argentina, kita bisa belajar dari Sekolah Mocha Celis, sebuah proyek pendidikan rakyat bagi komunitas travesti dan trans, serta dari kebijakan Kuota Kerja Trans yang mencadangkan satu persen pekerjaan sektor publik bagi orang trans. Dua tahun setelah kebijakan ini diterapkan, jumlah pekerja trans di sektor publik meningkat hingga sembilan ratus persen, sebelum kemudian dibalik melalui pemecatan massal oleh pemerintahan Javier Milei. Ada pula program reparasi bagi travesti dan perempuan trans yang selamat dari represi junta militer yang didukung CIA, sebuah represi yang bahkan berlanjut setelah transisi demokrasi karena hukum-hukum kriminalisasi tetap dipertahankan. Semua pencapaian ini lahir dari pengorganisasian politik dan militansi, sebuah pelajaran yang relevan secara global.
Kita juga perlu mengakui kesalahan-kesalahan yang ada. Salah satu kegagalan terbesar gerakan travesti dan trans di Argentina adalah kolaborasi yang memalukan dengan kelompok-kelompok feminis radikal anti pekerja seks (SWERF). Aliansi semacam ini justru merusak posisi material banyak travesti dan perempuan trans yang hidup dalam kondisi rentan dan tidak aman. Dalam satu bagian, Gill-Peterson mengutip Marlene Wayar secara positif atas sikap anti-asimilasionisnya, tetapi sama sekali tidak menyinggung posisi abolisionisme kerja seks yang dipegang Wayar. Sikap ini membawanya menandatangani surat-surat terbuka yang menentang dekriminalisasi kerja seks bersama organisasi seperti Coalition Against Trafficking in Women in Latin America and the Caribbean (CATWLAC).
CATWLAC sendiri merupakan organisasi afiliasi dari aliansi transfobik global yang dikenal sebagai Women’s Declaration International (WDI), yang bendahara sekaligus mantan ko-direkturnya tidak lain adalah tokoh TERF awal, Janice Raymond. Sekali lagi, kompleksitas politik trans di Amerika Latin tampaknya luput dari perhatian Gill-Peterson. Namun saya meragukan bahwa hal ini benar-benar mengganggunya, mengingat kesimpulan bukunya justru menawarkan sebuah fantasi orientalis tentang politik travesti yang sempurna, seolah-olah hadir untuk menebus dosa-dosa asimilasionisme Global North.
Pendekatan ini mungkin juga menjelaskan mengapa kata-kata dan frasa yang sebenarnya sepenuhnya dapat diterjemahkan, seperti precarización, coexistencia, atau lo suficientemente bueno, sering dibiarkan dalam bahasa Spanyol. Pilihan ini menyerupai sikap seorang turis yang mencoba-coba bahasa lokal demi sensasi eksotisme, dan pada akhirnya hanya memperkuat proses pengasingan dan eksotisasi subjek-subjek subaltern yang sedang dibicarakan.
Di tengah krisis global yang saat ini melanda komunitas transfeminin, kita memang membutuhkan sebuah sejarah tentang transmisogini. Namun kita juga pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari sekadar ini. Kita membutuhkan sejarah dengan cakupan yang benar-benar global, yang memperlakukan tragedi dan keberhasilan Global South sebagai sesuatu yang bermakna pada dirinya sendiri, bukan sekadar latar pembanding bagi konflik internal komunitas trans di Global North.
Kita membutuhkan sebuah buku yang mampu menatap orang-orang trans di Global South dan, meminjam kata-kata novelis trans Spanyol Alana S. Portero dalam novel debutnya Bad Habit, “berbicara bersama mereka dan menurunkan mereka dari singgasana idealisasi, yang pada dasarnya merupakan cara lain untuk merampas kemanusiaan mereka.” Kita membutuhkan fokus pada bentuk-bentuk pengorganisasian politik agar kita bisa melawan sebagai sebuah komunitas, alih-alih terus terjebak pada persoalan identitas semata.
Yang kita butuhkan adalah revolusi, bukan romantisme.
Glosarium Singkat:
SWERF (Sex Worker Exclusionary Radical Feminist)
Feminisme radikal yang menolak mengakui pekerja seks sebagai subjek politik, serta menentang dekriminalisasi kerja seks. Posisi ini sering dikritik karena justru memperburuk kondisi hidup banyak pekerja seks, termasuk perempuan trans.
TERF (Trans-Exclusionary Radical Feminist)
Feminisme radikal yang mengecualikan perempuan trans dari perjuangan feminis dan menolak mengakui identitas trans. Pandangan ini kerap beririsan dengan kebijakan dan wacana transfobik.
Transmisogini
Bentuk penindasan khusus terhadap perempuan trans dan individu transfeminin, yang menggabungkan transfobia dan misogini.
Transfeminin
Istilah payung bagi individu trans yang identitas atau ekspresi gendernya condong ke feminitas.
Travesti
Identitas gender dengan sejarah dan makna politik khas di Amerika Latin, tidak selalu identik dengan istilah “perempuan trans” dalam konteks Barat.
Abolisionisme Kerja Seks
Pandangan yang ingin menghapus kerja seks dan menentang dekriminalisasi, sering dikritik karena berdampak buruk pada keselamatan pekerja seks.
Dekriminalisasi Kerja Seks
Pendekatan kebijakan yang menghapus sanksi pidana terhadap kerja seks demi meningkatkan perlindungan dan hak pekerja seks.
Orientalisme
Cara pandang yang meromantisasi atau menyederhanakan masyarakat non-Barat, alih-alih memahami konteks sejarah dan sosialnya secara utuh.
Global North / Global South
Istilah untuk menggambarkan ketimpangan historis dan struktural antara negara-negara maju dan wilayah yang mengalami kolonialisme.
Seluruh hasil publikasi didanai sepenuhnya oleh donasi. Jika kalian menyukai karya-karya kami, kalian dapat berkontribusi dengan berdonasi. Temukan petunjuk tentang cara melakukannya di halaman Dukung C4SS: https://c4ss.org/dukung-c4ss.






