Rekayasa Kelangkaan

Oleh: Dawie Coetzee. Teks aslinya berjudul “Manufacturing Scarcity”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.

Selama ini kita sama-sama sepakat bahwa sistem kapitalisme negara (state capitalism) yang dominan bergantung pada pemeliharaan kelangkaan buatan (artificial scarcity). Namun tampaknya masih ada sedikit kekaburan mengenai bagaimana kelangkaan tersebut sebenarnya diciptakan. Secara khusus, masih muncul pertanyaan apakah kelangkaan buatan pada akhirnya menyebabkan produksi industri meningkat atau justru menurun. Sekilas, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain, jawabannya tampak sederhana. Cara paling mudah menciptakan kelangkaan adalah dengan mengurangi produksi. Namun, dalam banyak kasus, justru sebaliknya yang terjadi. Kelangkaan buatan sering kali hanya dapat tercipta melalui peningkatan produksi dalam jumlah besar.

Faktor penentunya terletak pada pilihan teknologi produksi dan peran negara dalam mempertahankan kondisi yang membuat pilihan teknologi tertentu tetap layak digunakan. Teknik produksi massal bersifat sangat spesifik terhadap suatu model produk sekaligus membutuhkan investasi modal yang besar. Karena itu, teknik ini hanya memberikan keunggulan dibandingkan produksi skala kecil (artisanal production) atau metode lainnya apabila volume produksi cukup besar untuk menutup seluruh biaya yang terlibat. Dengan kata lain, penghematan biaya per unit yang diperoleh harus, setelah dikalikan dengan jumlah unit yang diproduksi dalam periode tertentu, mampu melampaui biaya-biaya khas yang melekat pada teknik tersebut. Inilah yang lazim dikenal sebagai skala ekonomi (economies of scale).

Persoalan mulai muncul ketika permintaan pasar tidak cukup besar untuk membenarkan penggunaan teknik produksi massal. Dalam situasi seperti ini, industri pada dasarnya hanya memiliki dua pilihan. Pertama, kembali menggunakan teknik produksi yang berskala lebih kecil. Kedua, menciptakan permintaan yang diperlukan secara artifisial.

Pada pilihan pertama, kelangkaan buatan diciptakan dengan memastikan bahwa jumlah produksi selalu lebih kecil daripada permintaan. Namun strategi ini akan sangat sulit dipertahankan apabila terdapat persaingan bebas, kecuali jika negara turun tangan melindunginya. Bahkan ketika negara berhasil menyingkirkan para pesaing, jumlah kelangkaan buatan yang dapat diciptakan tetap dibatasi oleh besarnya permintaan yang memang sudah ada.

Sebaliknya, pada pilihan kedua, kelangkaan buatan justru diciptakan dengan membangun struktur kebutuhan baru, sehingga permintaan menjadi jauh lebih besar daripada kapasitas produksi yang sebenarnya sudah sangat tinggi dan membuat teknik produksi massal menguntungkan. Strategi seperti ini hampir mustahil dijalankan tanpa campur tangan negara. Namun setelah struktur kebutuhan tersebut berhasil dibangun, ia dapat terus diperluas dari waktu ke waktu hingga mencapai skala yang sama sekali tidak sebanding dengan kebutuhan awal masyarakat. Dengan demikian, jumlah kelangkaan buatan yang dapat diciptakan praktis menjadi hampir tidak terbatas.

Karena itu, cukup jelas bahwa apabila memiliki kesempatan, industri kapitalis akan jauh lebih memilih menciptakan kelangkaan dengan terus-menerus memperbanyak dan menggandakan permintaan secara artifisial, daripada sekadar mengurangi jumlah produksinya.

Yang juga penting dipahami adalah bahwa keberadaan teknik produksi tertentu dalam berbagai industri sejak awal telah mengandaikan adanya mekanisme yang mampu menciptakan tingkat permintaan artifisial tersebut. Tanpa monopoli koersif negara, mekanisme seperti itu hampir mustahil dipertahankan. Oleh sebab itu, adalah kekeliruan jika kita mengira tingkat permintaan seperti sekarang akan tetap bertahan tanpa keberadaan negara, kecuali mungkin hanya untuk waktu yang sangat singkat.

Sepanjang sejarah memang terdapat beberapa contoh kolusi yang dilakukan secara terang-terangan. Salah satu yang paling terkenal adalah Great American Streetcar Scandal yang dimulai sekitar tahun 1936. Namun dalam banyak kasus, kondisi tersebut tidak dibangun melalui konspirasi yang begitu gamblang. Yang lebih sering terjadi adalah munculnya visi tentang masa depan, yang kemudian dengan antusias diwujudkan oleh negara melalui penyediaan infrastruktur, perangkat teknologi, serta kerangka regulasi yang diperlukan.

Dalam proses inilah gagasan mengenai kemajuan teknologi yang bersifat spontan dan linear, beserta cara pandang dunia yang menyertainya, memainkan peranan besar. Masa depan kemudian dipresentasikan sebagai sesuatu yang sekaligus tak terelakkan dan menggairahkan. “Beginilah cara kita akan hidup di dunia masa depan!”

Akibatnya, pembangunan sistem yang pada akhirnya menciptakan struktur kebutuhan yang bersifat kontingen—yakni kebutuhan tidak langsung yang bergantung pada sistem yang telah dibangun sebelumnya—tidak pernah benar-benar dipahami sebagai proyek untuk menciptakan permintaan ekonomi secara artifisial. Sebaliknya, ia tampil sebagai proyek pelayanan publik yang mulia. Setelah sistem tersebut berdiri, ia mulai menghasilkan proyeksi permintaan masa depan yang tampak masuk akal. Dari situlah muncul anggapan bahwa kita harus terus menambah infrastruktur, teknologi, dan produksi, tanpa pernah lagi mempertanyakan mengapa semuanya dianggap perlu.

Dengan demikian, menciptakan permintaan akhirnya berubah menjadi bagian normal dari aktivitas industri. Semakin terkonsentrasi kekuatan industri, semakin besar pula volume produksi yang dihasilkan. Namun anehnya, produksi yang terus meningkat itu tetap saja dianggap tidak pernah cukup untuk memenuhi “kebutuhan” kita.

Di sinilah letak inti dari ekologi libertarian. Memang benar bahwa industri menghasilkan terlalu banyak barang. Namun penyebabnya bukan karena konsumen memiliki hasrat yang tidak pernah terpuaskan terhadap barang-barang konsumsi. Tidak adil menyalahkan orang karena menginginkan sedikit kenyamanan ketika sistem telah membuat mereka membutuhkan jauh lebih banyak. Bahkan keinginan paling berlebihan yang dimiliki seseorang mungkin sebenarnya masih jauh lebih sederhana dibandingkan struktur kebutuhan artifisial yang dipaksakan kepada mereka.

Seandainya kita mampu menghapus sebagian besar konsumsi yang dipaksa menjadi kebutuhan, maka dunia masih memiliki ruang yang lebih dari cukup untuk menampung seluruh konsumsi yang benar-benar kita inginkan. Kesimpulan ini justru bertolak belakang dengan narasi yang terus-menerus kita dengar, yaitu bahwa hanya penghematan ekstrem dan hidup serba kekurangan yang dapat menyelamatkan bumi.

Dengan kata lain, kita memproduksi terlalu banyak dibandingkan dengan kesenangan yang benar-benar kita peroleh dari proses produksi tersebut. Kreativitas manusia tersebar terlalu tipis karena harus memenuhi volume produksi yang begitu besar. Padahal, mencipta seharusnya merupakan sebuah keistimewaan. Namun ketika setiap gagasan baru mengharuskan kita memproduksi jutaan salinan yang sama hanya agar permintaan yang dibutuhkan sistem tetap bertahan, maka kreativitas justru kehilangan maknanya.

Seharusnya tidak seperti itu.

Support Iman Amirullah by considering becoming his Patron.

Anarchy and Democracy
Fighting Fascism
Markets Not Capitalism
The Anatomy of Escape
Organization Theory