Oleh: Bent Delbeke. Teks aslinya berjudul “The Concentration of Capital”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.
Konsentrasi Kapital: Manfaat Pasar Non-Kapitalis
Salah satu masalah inheren dalam kapitalisme (dan mungkin yang terbesar) adalah konsentrasi kapital. Mari kita melihatnya secara kritis.
Konsentrasi kapital adalah hasil langsung dari konstruksi kapitalisme atas kepemilikan legal. Berbeda dengan (misalnya) kebebasan berekspresi, yang merupakan hak yang sangat praktis, “hak” ini bersifat hipotetis yang hanya dapat dijalankan jika kondisi seseorang memungkinkannya. Hal ini tidak berlaku untuk kebebasan murni, seperti kebebasan beragama atau kebebasan berkumpul, yang dapat dijalankan oleh siapa pun, dimana pun, jika mereka menghendakinya. Negara, dan kebanyakan orang, menganggap hal ini normal jika seseorang tidak memiliki sarana yang diperlukan untuk menggunakan hak ini, tetapi mengapa?
Masalah konsentrasi kapital berakar pada “hak” kepemilikan ini. Karena kapitalisme berfungsi berdasarkan prinsip berikut: semakin banyak kapital yang dimiliki seseorang, semakin cepat kapital tersebut berkembang. Dengan demikian, keberuntungan mengukuhkan kelas sosial, dan keberuntungan (atau ketiadaannya) dari para leluhur kita masih memengaruhi kita hingga hari ini. Mobilitas sosial mungkin lebih besar dari sebelumnya karena teknologi, tetapi tetap terhambat oleh kapital dan kepemilikan. Tenaga kerja dihargai dengan upah per jam yang hanya sebagian kecil dari nilai produk yang mereka hasilkan, sementara kapital berlipat ganda, bahkan tiga kali lipat, dengan setiap investasi. Sampai kapan kita akan berpura-pura bahwa ini adalah hukum alam yang sah, dan bukan konstruksi mengerikan yang hanya melekat pada kapitalisme?
Kepemilikan kolektif atas kapital adalah solusi yang jelas untuk masalah ini, tetapi bagaimana kita mengorganisasikannya? Ada beberapa arah besar yang bisa diambil. Di satu sisi, ada usulan kaum Leninis dan Stalinis, di mana negara bertindak sebagai semacam mediator bagi proletariat dalam semua hal, termasuk ekonomi. Hal ini tidak akan berujung selain pada tirani para birokrat yang menyebut diri mereka proletariat, tetapi pada praktiknya menjadi adipati dan raja dari teror merah. Singkatnya: aristokrat korup, Mafiosi. Sistem ini sama cacatnya dengan hierarki yang ada saat ini, kita tidak boleh puas hanya dengan membalik atau mereformasi hierarki kapitalisme dan negara, kita harus menghapusnya. Pilihan kedua adalah anarki: di mana semua urusan yang sebelumnya dianggap sebagai urusan negara atau kapital, berada di tangan komune atau asosiasi berbasis konsensus. Pilihan ketiga adalah campuran, di mana urusan seperti kepolisian dan pertahanan masih berada di tangan negara tetapi lebih demokratis (meskipun tetap melalui pemilihan), sementara urusan ekonomi diserahkan kepada para pekerja itu sendiri.
Pilihan pertama adalah kematian gerakan kelas pekerja, dan tirani yang mematikan. Pilihan ketiga lebih baik, tetapi tetap saja, negara dapat menyalahgunakan kekuasaannya, dan masyarakat tetap terbagi dalam kelas-kelas.
Sebaliknya, masyarakat seharusnya dipandang sebagai individu-individu, sebagai ego yang bergerak bebas, dan semua individu ini harus memiliki ruang gerak yang layak mereka miliki. Untuk itu, kita membutuhkan anarki dan kepemilikan alat produksi berbasis konsensus serta organisasi masyarakat yang juga berbasis konsensus. Hanya dengan demikian kita benar-benar membebaskan manusia, semua manusia, bukan hanya mereka dari kelas, ras, gender, atau jenis kelamin tertentu.
Sekarang, untuk menentukan bagaimana kolektif sukarela dari individu-individu bebas ini berinteraksi satu sama lain, kita hanya memiliki dua pilihan: pasar sosialis, yang didasarkan pada teori nilai tenaga kerja dan pertukaran sukarela, atau ekonomi terencana, yang didasarkan pada prinsip “dari masing-masing menurut kemampuannya, kepada masing-masing menurut kebutuhannya.” Ini merupakan perbedaan antara anarkisme yang lebih terinspirasi Marx seperti anarko-komunisme, dan anarkisme pasar seperti mutualisme (yang diikuti oleh agorisme dan egoisme, dan lain-lain), dengan kaum kolektivis Bakuninis berada di tengah-tengahnya. Bagi saya, pilihannya jelas.
Kita harus mendukung pasar, karena ekonomi terencana, pertama-tama, membutuhkan birokrasi, yang dalam masyarakat anarkis hampir mustahil untuk diorganisasikan. Karena semua fungsi yang biasanya dijalankan oleh pasar akan digantikan oleh pejabat dan delegasi terpilih. Hal ini sebenarnya bisa diterima jika prinsip federasi dipatuhi, misalnya para delegasi sepenuhnya tunduk pada kehendak komune atau kelompok. Namun, jumlahnya tidak boleh lebih dari yang diperlukan, karena hal ini berbahaya, karena semakin banyak delegasi dan perwakilan yang ada, semakin besar peluang munculnya kekuasaan dan hierarki. Maka, kita harus menyimpulkan bahwa pasar sosialis lebih memperhatikan kebebasan individu dalam pertukaran sukarela dan lebih efektif dalam melawan hierarki.
Kepemilikan dan konsentrasi kapital yang melekat pada kapitalisme merusak apa yang kita sebut sebagai pasar “bebas” karena menciptakan hierarki dan ketimpangan. Ketimpangan ini tidak semata-mata merupakan hasil dari individu itu sendiri. Pasar, jika benar-benar bebas, tanpa konsentrasi kapital atau hierarki dalam bentuk apa pun, akan menciptakan dorongan bagi perubahan dan teknologi untuk berkembang. Oleh karena itu, ini adalah pilihan terbaik kita.
Support Ringo by considering becoming his Patron.






