Memetakan Libertarianisme Kiri: Sebuah Tinjauan Awal

Oleh: Gary Chartier. Teks aslinya berjudul “Framing Left Libertarianism: A First Pass”. Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Taratsa.

Libertarianisme kiri (left libertarianism, selanjutnya LL) dapat dipandang sebagai sekadar upaya mengemas gagasan dan membangun propaganda. Namun, ia juga dapat dipahami sebagai ekspresi kuat dari berbagai persoalan yang semestinya menjadi inti dari gerakan-gerakan kebebasan.

Kaum libertarian maupun kelompok kiri yang sinis mungkin sama-sama melihat pembicaraan mengenai LL sebagai permainan retorika. Bisa jadi, mereka menganggapnya sebagai upaya untuk menjual gagasan-gagasan libertarian kepada orang-orang kiri naif yang tidak menyadari bahwa gagasan tersebut pada dasarnya bertentangan dengan agenda politik kiri. Atau sebaliknya, mungkin LL dipandang sebagai upaya mencangkokkan sesuatu yang asing ke dalam tubuh gerakan libertarian, membebaninya dengan berbagai persoalan yang dianggap tidak memiliki tempat dalam agenda libertarian yang sesungguhnya.

Kedua pandangan tersebut sama-sama tidak meyakinkan dan tidak menarik.

LL benar-benar libertarian karena ia anti-negara—para libertarian kiri yang langsung terlintas dalam pikiran saya semuanya adalah anarkis; dalam tulisan ini saya menganggap bahwa seorang libertarian kiri adalah seorang anarkis, atau setidaknya cukup dekat dengan anarkisme sehingga perbedaannya tidak relevan—dan karena ia mengakui nilai pasar serta hak kepemilikan. Pada saat yang sama, LL juga benar-benar berhaluan kiri karena berupaya menantang privilese, hierarki, eksklusi, deprivasi, dan dominasi, baik secara ideologis maupun praktis, serta dapat menunjukkan komitmen yang sungguh-sungguh terhadap inklusi, pemberdayaan, dan saling menghormati.

Dan semua itu dapat dilakukan bukan dengan mendefinisikan ulang berbagai istilah—misalnya dengan mengatakan bahwa kebebasan dari paksaan fisik adalah satu-satunya bentuk kebebasan yang benar-benar penting—melainkan dengan menunjukkan keselarasan antara cita-cita dan prinsip libertarian dengan penerimaan yang sungguh-sungguh terhadap persoalan-persoalan utama yang menjadi perhatian gerakan kiri.

Hal itu dapat dilakukan dengan menunjukkan implikasi radikal dari prinsip-prinsip libertarian yang selama ini telah diterima secara luas.

• Misalnya, dapat ditunjukkan bahwa sejarah kekerasan dan kolusi dengan— atau bahkan dukungan terhadap— tirani yang dilakukan oleh individu dan organisasi yang memiliki kekuatan ekonomi telah merusak legitimasi hak kepemilikan yang mereka pegang, sekaligus memberikan dasar bagi penguasaan melalui homesteading atas apa yang mereka klaim sebagai properti oleh orang-orang yang hidup dan bekerja di atasnya.

• Demikian pula, penerapan penuh prinsip-prinsip libertarian mengenai ketidakadilan dan dampak buruk monopoli serta subsidi kemungkinan besar akan melemahkan, dalam berbagai cara, kekuasaan organisasi bisnis yang hierarkis dan tersentralisasi. Hal itu juga dapat mempermudah penggantian banyak perusahaan tersebut dengan koperasi yang dikelola oleh pekerja, sekaligus secara drastis meningkatkan pengaruh pekerja dalam sebagian besar perusahaan lainnya.

• Prinsip-prinsip libertarian yang sama juga dapat digunakan untuk menolak bentuk privilese yang memungkinkan perusahaan, kelompok profesi, dan individu yang memiliki pengaruh menggunakan kekuasaan negara untuk mengeksploitasi orang lain. Misalnya, perusahaan yang memiliki koneksi politik dapat memperoleh keistimewaan perpajakan yang memberi mereka keuntungan non-pasar atas para pesaingnya. Demikian pula, kelompok profesi tertentu dapat merugikan masyarakat sekaligus calon pesaing dari kalangan miskin dengan mempertahankan kekayaan dan privilese melalui persyaratan lisensi yang mahal, yang diberlakukan atau dipertahankan atas tekanan mereka melalui negara.

• Dan prinsip yang sama yang mengutuk negara secara umum juga memberikan dasar yang kuat untuk menentang perang dan imperialisme secara khusus.

LL juga dapat menekankan sejauh mana prinsip-prinsip moral yang sama yang mendorong penolakan terhadap kekuasaan negara yang menindas dapat menjadi alasan kuat untuk menantang berbagai ketimpangan sosial yang secara tepat telah menjadi perhatian banyak orang di kalangan kiri. Sejauh penolakan terhadap kekuasaan negara berakar pada teori moral tertentu, apa pun bentuknya, teori tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan penilaian moral mengenai persoalan-persoalan di luar kekuasaan negara. Tidak ada yang arbitrer dalam berpendapat bahwa sebuah teori tertentu dapat sekaligus menjadi dasar bagi penghormatan terhadap kebebasan dan bagi penilaian atau sikap moral lainnya. Teori hukum alam, teori kebajikan, Kantianisme, pluralisme moral, bahkan—meskipun karena berbagai alasan masih tampak tidak meyakinkan bagi saya—konsekuensialisme, semuanya dapat digunakan untuk memberikan landasan bagi dukungan terhadap anarkisme pasar, sekaligus memberikan dasar bagi kepedulian moral yang tidak bergantung pada anarkisme pasar. Dan, misalnya, perhatian terhadap kesetaraan moral manusia yang menjadi dasar penolakan terhadap adanya “hak alamiah untuk memerintah” serta penolakan terhadap ketidakpedulian kolektivisme terhadap keunikan setiap individu, sama-sama menjadikan rasisme, seksisme, dan heteroseksisme tidak dapat dibenarkan secara moral.

Para libertarian kanan mungkin memiliki berbagai alasan untuk menolak posisi libertarian kiri. Mereka dapat berpendapat, pertama, bahwa kepedulian terhadap kewenangan di tempat kerja, kesejahteraan pekerja, atau, misalnya, rasisme tidak memiliki sesuatu yang secara khusus bersifat libertarian. Atau mereka dapat mengambil posisi yang lebih tegas, yakni bahwa persoalan-persoalan tersebut justru anti-libertarian.

Apakah keberatan pertama tersebut meyakinkan sebagian bergantung pada bagaimana seseorang memahami dasar dari penolakan terhadap kekuasaan negara. Namun, sejauh penolakan tersebut berakar pada teori moral tertentu, teori itu sendiri kemungkinan dapat digunakan untuk menghasilkan penilaian moral mengenai persoalan-persoalan di luar kekuasaan negara. Tidak ada yang arbitrer dalam mengatakan bahwa sebuah teori tertentu sekaligus menjadi dasar bagi penghormatan terhadap kebebasan dan bagi penilaian atau sikap moral lainnya.

Tentu saja, seorang libertarian kanan dapat mengatakan bahwa ia menganggap kebebasan sebagai nilai dasar, tanpa mendasarkan nilai tersebut pada penilaian teoretis yang lebih umum. Namun, libertarian kiri tidak harus menerima anggapan bahwa kepedulian terhadap rasisme, kewenangan di tempat kerja, atau kemiskinan sama sekali tidak berhubungan dengan kebebasan sebagai nilai dasar. Hal ini bukan hanya karena—sebagaimana mungkin dikatakan oleh libertarian kiri—struktur dan tindakan yang melanggar kebebasan dalam pengertian yang menjadi fokus libertarian kanan turut mendorong subordinasi pekerja dan kelompok etnis minoritas serta mempertahankan kemiskinan, tetapi juga karena tampak tidak konsisten jika seseorang menentang ketundukan pada kewenangan arbitrer para pejabat negara, tetapi menganggap kewenangan arbitrer orang-orang yang tidak mengancam menggunakan kekerasan fisik sebagai sesuatu yang secara moral netral.

Pada titik ini, keberatan standar dari libertarian kanan mungkin berbunyi bahwa kewenangan yang tidak berakar pada kekuatan fisik atau ancaman kekuatan fisik tidak dapat dilawan secara sah dengan menggunakan kekuatan fisik. Namun, keberatan tersebut merupakan pengalihan isu.

Libertarian kiri tidak harus menganggap agresi terhadap tubuh atau properti seseorang sebagai respons yang tepat terhadap tindakan yang tidak menggunakan kekerasan tetapi secara moral tetap layak dipersoalkan. Boikot terorganisasi, mempermalukan (shaming), pengucilan sosial (shunning), penggunaan berbagai ruang untuk menyampaikan kritik di ranah publik maupun privat, perlambatan kerja (work slowdowns), serta berbagai mekanisme lain untuk menegakkan norma dan aturan sosial yang tidak melanggar prinsip non-agresi semuanya tersedia bagi libertarian kiri.

Libertarian kiri juga dapat menekankan bahwa meskipun cukup jelas apa yang dimaksud dengan menyerang tubuh seseorang, dan konsep mengenai tubuh seseorang relatif stabil, persoalan tentang apa yang termasuk sebagai agresi terhadap properti seseorang justru dapat diperdebatkan. Hal tersebut terutama bergantung pada apa sebenarnya hak kepemilikan yang dimiliki orang tersebut.

Pengadilan dalam komunitas mutualis, misalnya, tentu akan lebih cepat mengakui hak para pekerja yang melakukan homesteading atas sebuah pabrik yang telah ditutup dibandingkan pengadilan yang serupa dalam komunitas yang menganut hak kepemilikan ala Locke secara konvensional. Juri lokal dalam sebuah komunitas anarkisme pasar bisa saja menyimpulkan bahwa hak kepemilikan komersial yang bersedia mereka tegakkan tidak mencakup hak untuk menolak memberikan layanan biasa kepada seseorang berdasarkan ras.

Tidak ada sesuatu dalam anarkisme pasar, pada dirinya sendiri, yang secara otomatis menentukan bagaimana komunitas-komunitas berbeda yang sama-sama mengakui hak kepemilikan pribadi harus memahami hak tersebut, atau kapan pengadilan dan lembaga perlindungan yang berbeda akan memberikan ganti rugi atas perbuatan melawan hukum maupun pelanggaran kontrak. Hak-hak apa yang seharusnya diakui oleh sistem hukum dalam komunitas anarkisme pasar, serta bentuk pemulihan apa yang seharusnya tersedia ketika hak-hak tersebut dilanggar, hanya dapat dijawab melalui perdebatan moral yang terus berlangsung. Dan justru perdebatan semacam inilah yang memungkinkan komunitas-komunitas yang beragam dalam masyarakat anarkis pasar berfungsi sebagai semacam laboratorium tempat berbagai eksperimen mengenai cara hidup dapat dijalankan.

Kelompok kiri non-libertarian (non-libertarian leftists, NLL) juga mungkin sama curiganya terhadap libertarianisme kiri. Mereka mungkin meragukan apakah libertarian kiri benar-benar peduli terhadap masyarakat miskin, pekerja, kelompok minoritas seksual, dan kelompok-kelompok lain yang mereka klaim sebagai perhatian mereka. Sebagaimana libertarian kiri dapat dengan tepat menolak penggambaran libertarian kanan yang menganggap LL sebagai sesuatu yang bersifat pro-negara atau tidak relevan dengan kebebasan, libertarian kiri juga dapat dengan tepat menolak penggambaran kaum kiri non-libertarian yang menganggap LL tidak peduli terhadap eksklusi, dominasi, dan deprivasi.

Di sini, libertarian kiri harus menunjukkan kepada NLL betapa dalamnya negara sebenarnya terlibat dalam struktur subordinasi, pemiskinan, dan kekerasan yang sama-sama mereka tolak. Libertarian kiri dapat dengan tepat menekankan peran privilese monopoli dan subsidi yang diberikan negara dalam menopang kekuasaan yang secara formal dianggap sebagai kekuasaan privat. Ia dapat menawarkan sebuah pertaruhan kepada NLL: bahwa menghapus ancaman kekerasan negara sebagai penopang terakhir dari kekuasaan tersebut akan memainkan peran yang sangat besar dalam melemahkannya.

Ia dapat menunjukkan bahwa anarkisme pasar tidak berarti—dan tidak mungkin berarti—mempertahankan sistem hubungan kepemilikan yang berlaku saat ini secara utuh setelah kekuasaan negara dihilangkan. Hal ini bukan hanya karena adanya perbedaan pandangan mengenai aturan kepemilikan, misalnya antara kaum Lockean dan kaum mutualis, tetapi juga karena ketidakadilan yang merusak legitimasi begitu banyak hak kepemilikan yang ada saat ini, seperti dalam kasus latifundia di Amerika Latin.

Dan sebagaimana ia tekankan kepada libertarian kanan, mengikuti diktum Leonard Read untuk membatasi tindakan kita pada “apa pun yang damai” tidak berarti kita harus meninggalkan hak untuk mengkritik secara tajam perilaku orang-orang yang menggunakan properti mereka dengan cara yang secara moral bermasalah, ataupun meninggalkan kemampuan untuk memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku tersebut.

Libertarianisme kiri merupakan perkembangan yang sangat radikal dari berbagai penilaian moral libertarian yang telah diterima secara umum, sekaligus elaborasi atas implikasi prinsip-prinsip moral yang dapat menjadi dasar yang masuk akal untuk menolak statisme. Ia dapat memberikan landasan untuk menantang, sekaligus sarana untuk mengurangi atau mengakhiri, eksklusi, subordinasi, dan deprivasi dengan cara-cara yang benar-benar konsisten dengan anarkisme pasar.

Dengan demikian, libertarianisme kiri dapat menunjukkan bahwa sarana yang secara jelas libertarian dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang secara jelas berhaluan kiri, sekaligus memberikan pemaknaan ulang yang meyakinkan terhadap tujuan dan sarana tersebut sebagai sesuatu yang benar-benar libertarian sekaligus benar-benar kiri.

Seluruh hasil publikasi didanai sepenuhnya oleh donasi. Jika kalian menyukai karya-karya kami, kalian dapat berkontribusi dengan berdonasi. Temukan petunjuk tentang cara melakukannya di halaman Dukung C4SS: https://c4ss.org/dukung-c4ss.

Anarchy and Democracy
Fighting Fascism
Markets Not Capitalism
The Anatomy of Escape
Organization Theory