Oleh: Citizen Ilya. Teks aslinya berjudul “An Interview with Young Russian Activists from Food Not Bombs”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.
Support Ameyuri Ringo by considering becoming his Patron.
Food Not Bombs adalah gerakan internasional independen yang melakukan aksi langsung dengan membagikan makanan vegan kepada siapa saja yang membutuhkan. Para aktivisnya percaya bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari perjuangan melawan kemiskinan, militerisme, dan kekerasan. Seluruh kelompok Food Not Bombs yang ada di Rusia beroperasi secara terdesentralisasi, tetapi tetap berpegang pada gagasan yang sama. Di tengah situasi ketika pemerintah Rusia menghabiskan miliaran rubel untuk anggaran militer, setidaknya 20 juta orang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kehadiran para aktivis antifasis muda ini telah membawa perubahan bagi banyak orang. Kami menghubungi beberapa aktivis Food Not Bombs di Samara untuk berbincang mengenai gerakan mereka.
1. Bisa ceritakan bagaimana gerakan ini muncul di Samara dan nilai-nilai apa yang kalian perjuangkan?
Andrew: Gerakan ini mulai muncul di Samara pada tahun 2000-an. Saat itu para aktivis harus menghadapi serangan kelompok neo-Nazi. Mereka turun ke jalan dengan tutup panci di satu tangan dan pisau di tangan lainnya, mempertahankan diri dari serangan para neo-Nazi.
Kini situasinya sudah berubah. Jalanan jauh lebih aman, berkat mereka yang dahulu berani melawan para pelaku kekerasan tersebut. Generasi antifasis pun telah berganti.
Kami mulai mengorganisir kegiatan ini untuk menunjukkan bahwa orang-orang bisa melakukan kebaikan tanpa bergantung pada negara. Banyak dari kami merupakan pendukung komunisme libertarian, sementara banyak yang lain sekadar karena tidak bisa tinggal diam melihat penderitaan sesama.
Sekitar awal 2016 kami mulai aktif sebagai relawan, terutama dengan membantu tempat penampungan hewan. Pada Agustus 2018 kami mulai mempelajari pengalaman aktivis di Moskow dan St. Petersburg yang membagikan makanan kepada mereka yang membutuhkan. Pada akhir Oktober kami mengadakan aksi pertama. Sejak saat itu kami terus berjalan dengan mengandalkan sumber daya dan kemampuan kami sendiri, sambil perlahan membangun kekuatan bersama.
Oleg: Gerakan ini sebenarnya berawal pada dekade 1980-an dan sejak itu menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Rusia. Samara bukan pengecualian. Sepuluh hingga lima belas tahun lalu, aksi serupa juga pernah diadakan di kota ini. Kami hanya berusaha menghidupkannya kembali.
Tujuan utama gerakan ini adalah menarik perhatian publik terhadap kebijakan destruktif banyak pemerintah di dunia, yang menghabiskan dana besar untuk militer sementara jumlah orang miskin dan tunawisma terus bertambah akibat perang yang dimulai atau didukung oleh para penguasa.
Pada suatu titik, banyak dari kami merasa perlu melakukan sesuatu yang nyata daripada sekadar mengeluh tentang buruknya keadaan. Karena kami semua pernah mendengar tentang Food Not Bombs, kami memutuskan untuk menjalankan kegiatan semacam ini. Kami yakin kami mampu melakukannya, dan ternyata benar.
Masalahnya, kami tidak punya pengalaman dan tidak ada tempat untuk belajar. Namun kami tetap memulai. Sejak musim gugur tahun lalu kami rutin turun ke jalan membagikan makanan. Awalnya kami banyak belajar dari kesalahan sendiri. Setelah setiap aksi, kami mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki atau ditambahkan. Kini kami memiliki cukup pengalaman dan dengan senang hati membagikannya kepada siapa saja yang ingin memulai kegiatan serupa.
2. Orang-orang seperti apa yang biasanya datang kepada kalian?
Andrew: Sebagian besar yang kami bantu adalah para lansia yang harus bertahan hidup dengan uang pensiun yang sangat kecil. Selain itu ada juga pejalan kaki, pelajar, dan orang-orang yang tertarik dengan kegiatan kami lalu ikut makan bersama.
Oleg: Beragam orang datang kepada kami. Ada tunawisma, warga lanjut usia, pekerja metro, pengunjung pasar, hingga orang yang sekadar lewat. Lokasi kami berada di antara stasiun metro dan pasar, jadi banyak orang singgah.
Sebagian datang untuk makan, tetapi ada juga yang ingin mengobrol, mencari tahu siapa kami, berbagi gagasan, atau menceritakan masalah yang mereka hadapi.
Kebanyakan mendukung apa yang kami lakukan, bahkan menawarkan bantuan. Namun ada juga yang bersikap negatif. Mereka percaya bahwa “orang yang tenggelam harus menyelamatkan dirinya sendiri.”
Dari mereka kami sering mendengar komentar seperti, “Kenapa kalian memberi makan mereka?”, “Kalau lapar suruh saja mereka bekerja,” atau “Kalau perang terjadi, siapa yang akan melindungi kalian?”
Kami mencoba menjelaskan bahwa tidak ada masalah yang benar-benar hanya milik orang lain. Kami juga berusaha menjelaskan akar penyebab perang dan pentingnya solidaritas serta saling mendukung satu sama lain.
3. Sejauh mana warga Samara mendukung kalian?
Andrew: Kadang orang menghubungi kami setelah menerima selebaran yang kami bagikan. Sebagian menghubungi lewat media sosial dan menyumbangkan bahan makanan, sementara yang lain memberikan bantuan dana.
Oleg: Seperti yang sudah saya katakan, sebagian besar orang yang datang mendukung gagasan kami. Banyak yang menawarkan bantuan.
Gerakan ini juga cukup menarik perhatian anak muda. Ada yang membantu menyebarkan informasi, ada pula yang bergabung dan menjadi anggota aktif kelompok kami.
4. Bagaimana hubungan gerakan kalian dengan vegetarianisme dan veganisme?
Andrew: Sebagian besar anggota kelompok kami adalah vegan dan vegetarian. Beberapa lainnya masih mengonsumsi semua jenis makanan. Namun dalam setiap kegiatan kami hanya menyajikan makanan vegan.
Oleg: Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa vegetarianisme dan veganisme adalah dua hal yang berbeda.
Vegetarian tidak mengonsumsi daging, umumnya karena mereka tidak ingin memakan tubuh hewan yang dibunuh manusia. Vegan tidak hanya menghindari daging, tetapi juga semua produk yang berasal dari hewan seperti susu, telur, dan keju, karena mereka menolak segala bentuk eksploitasi terhadap hewan.
Salah satu prinsip utama gerakan ini adalah non-kekerasan, yaitu menolak segala bentuk kekerasan yang dilakukan manusia. Perang adalah contoh kekerasan manusia terhadap sesamanya. Eksploitasi dalam bentuk apa pun juga merupakan kekerasan. Kemiskinan sendiri adalah akibat dari eksploitasi orang biasa oleh mereka yang kaya.
Eksploitasi terhadap hewan juga merupakan bentuk kekerasan. Karena itulah kami tidak menggunakan produk hewani dalam kegiatan kami.
Namun menjadi vegan bukan syarat untuk bergabung dengan Food Not Bombs. Memaksa seseorang berhenti mengonsumsi produk hewani juga bertentangan dengan prinsip kami. Itu adalah pilihan pribadi masing-masing individu. Di kelompok kami ada vegan dan ada pula yang tidak, tetapi hal itu tidak pernah menjadi sumber konflik.
5. Seberapa penting solidaritas dan gotong royong di bawah negara yang otoriter?
Andrew: Solidaritas dan gotong royong adalah dua hal yang dapat digunakan masyarakat untuk menghadapi tekanan dari negara.
Oleg: Solidaritas dan gotong royong penting dalam kondisi apa pun, bukan hanya di negara otoriter.
Setiap orang adalah bagian dari masyarakat dan karena itu bergantung pada masyarakat serta orang-orang di sekitarnya. Ketika kita membiarkan seseorang menghadapi masalahnya sendirian, kita turut membiarkan masalah itu menyebar. Pada akhirnya masalah tersebut bisa menimpa siapa saja, termasuk diri kita sendiri.
Karena itulah kami berusaha memperhatikan siapa pun yang membutuhkan uluran tangan.
6. Menurut kalian, mana yang lebih buruk, kemiskinan atau perang?
Andrew: Sulit mengatakan mana yang lebih buruk. Selama kapitalisme masih ada, orang miskin akan terus dimiskinkan dan banyak yang mati karena kelaparan. Sementara kelas penguasa di berbagai negara akan terus mengadu domba masyarakat agar saling membunuh demi kepentingan elite dalam perang.
Oleg: Sulit menjawabnya karena keduanya saling berkaitan.
Kemiskinan sering kali merupakan akibat dari perang. Karena perang, banyak orang kehilangan nyawa, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mereka cintai.
Sementara itu, orang-orang kaya justru mendapatkan keuntungan terbesar dari perang. Mereka tidak mempertaruhkan nyawa, kesehatan, atau rumah mereka sendiri. Mereka dapat dengan tenang menentukan nasib ribuan bahkan jutaan orang lain.
Dan sering kali, para tentara yang pulang dari perang justru berakhir miskin dan terabaikan. Jadi bagi saya, perang dan kemiskinan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
7. Jika tidak rahasia, apa rencana gerakan ini ke depan?
Andrew: Kami berencana membuka titik distribusi makanan kedua di kawasan lain yang juga memiliki banyak warga membutuhkan.
Kami juga memiliki berbagai gagasan untuk proyek sosial dan lingkungan lainnya. Sayangnya, saat ini kami belum memiliki cukup waktu dan tenaga untuk mewujudkannya.
Oleg: Dalam waktu dekat kami ingin mulai membagikan makanan di dua lokasi sekaligus agar bisa menjangkau lebih banyak orang.
Kami juga ingin lebih aktif menyebarkan informasi tentang gerakan ini dan gagasan-gagasannya, sehingga kelompok-kelompok independen serupa dapat tumbuh di kota-kota lain.
Kami terus berusaha berkembang, menetapkan tujuan baru, dan mewujudkannya satu per satu.






