Oleh: Nikki Cooper. Diterjemahkan dari artikel dengan judul yang sama oleh Ameyuri Ringo.
Support Ringo by considering becoming his Patron.
Awalnya, saya tidak tahu bagaimana memulai ulasan saya tentang antologi Queer Ultraviolence karya Fray Baroque dan Tegan Eanelli. Saya sudah membaca puluhan buku tentang anarkisme, tapi pemahaman saya tentang insureksionis masih sebatas informasi di Wikipedia. Jadi saya mulai saja dari kesan pertama saya terhadap buku ini.
Penampilan luar buku ini menyampaikan pesan yang kuat. Di bagian belakang ada kutipan yang pasti bisa memancing semangat siapa pun yang radikal atau anarkis, dan sampulnya serba pink, lengkap dengan siluet queer yang membawa senjata. Pembaca pasti langsung penasaran dengan isinya. Font ala tahun 70-an yang funky dan slogan “BASH BACK” dengan huruf kapital besar memberi sentuhan akhir yang tegas pada narasi queer yang radikal. Tapi estetikanya menipu. Buku ini dibuka dengan pernyataan misi yang canggung dan samar. Sampai halaman terakhir, saya masih bingung: sebenarnya buku ini tentang apa sih? Apakah ini ajakan menggulingkan sistem kapitalis? Serangan terhadap agama? Atau sekadar teriakan “fuck you” buat sistem gender-binari alias “cistem”? Entahlah. Mungkin tergantung pembacanya.
Awalan yang berantakan itu tidak langsung membunuh antusiasme saya. Sebagai seorang trans perempuan kulit berwarna, saya mencoba bersabar dan melanjutkan membaca. Sepuluh halaman pertama berlalu cepat, di mana asal-usul Bash Back dijelaskan. Bash Back lahir sebagai bentuk protes terhadap Konvensi Nasional Partai Republik dan Demokrat tahun 2008 dan gerakan Pride seacra umum. Awalnya, gerakan ini ditujukan kepada mereka yang menolak keberadaan queer dan trans, sekaligus kepada kalangan Pride arus utama yang dianggap telah menjual diri demi diterima sistem. Bash Back menuduh mereka menjual kita demi “sisa-sisa makan malam” dari penguasa. Sikap mereka yang terang-terangan memusuhi elit politik dan Pride arus utama cukup membangkitkan semangat saya.
Tapi ketika sampai di halaman dua puluh, saya mulai mentok. Isi bukunya seperti kumpulan pikiran acak yang berusaha menyambungkan kapitalisme, negara, dan agama tapi tidak berhasil. Buku ini seharusnya bisa jauh lebih kuat kalau berisi lebih banyak perspektif pribadi dari para anggota Bash Back. Tapi sebagian besar halaman malah dipenuhi puisi, metafora, dan materi yang terlalu abstrak.
Masalah lainnya adalah eksklusivitas yang berlebihan. Dari awal, buku ini mempromosikan semacam maskulinitas queer yang macho, seolah hanya ada ruang untuk “bullqueers” (istilah untuk queer maskulin yang agresif) yang tidak takut penjara. Siapa pun yang tidak mau dipenjara karena vandalisme—yang oleh mereka disebut “menyenangkan”—langsung dicap sebagai kaum asimilasionis. Saya paham bahwa pemberontakan bisa punya peran penting; sisi kriminal dalam diri saya menghargai hal itu. Tapi menganggap siapa pun yang tidak siap masuk penjara sebagai pengkhianat? Itu konyol. Ditambah lagi, buku ini terus-menerus mengulang mantra “anarkisme adalah komunisme” dan “komunisme adalah anarkisme” sampai terasa melelahkan. Seperti tipikal anarko-komunis lainnya, buku ini menyiratkan bahwa hanya tipe anarkis tertentu yang bisa diterima. Kalau kamu bukan anarki komunis, kamu dianggap musuh.
Saya juga berharap menemukan sesuatu yang segar dan baru. Tapi ternyata buku ini lebih seperti daur ulang tema-tema lama dari masa lalu. Di tengah-tengahnya ada puisi yang terasa setengah matang, cemoohan terhadap akademisi, dan upaya pemberontakan yang setengah hati. Meski terkesan “keras”, buku ini tampaknya takkan dikenang lebih dari sekadar catatan kaki dalam sejarah radikal.
Untungnya, ada beberapa bagian yang berkesan. Salah satunya adalah email anonim dari seorang anggota Bash Back. Ia menceritakan kisah konfrontasi dengan polisi dalam sebuah “pesta vandalisme”. Di tengah kekacauan, polisi diserang dengan “senjata queer” yang kreatif, termasuk dildo, tongkat peri mainan, dan kalau saya tidak salah ingat, sepatu hak tinggi. Adegan ini membuat saya tersenyum lebar, membayangkan polisi dipukul wajahnya dengan benda-benda berkilauan berbentuk falus.
Bagian lain yang menyentuh adalah kisah penangkapan massal. Semua orang dalam kelompok itu mengenakan pakaian serba hitam dan merah muda, dan menolak memberi tahu polisi tentang gender mereka. Ini strategi cerdas yang membuat polisi tak bisa memisahkan mereka berdasarkan gender—langkah yang melindungi mereka dari potensi kekerasan atau pelecehan seksual di tahanan. Tapi bukan cuma cerdas, aksi ini juga penuh solidaritas dan kasih sayang. Di momen genting itu, mereka saling menjaga. Membayangkan sekelompok trans, queer, dan sekutu mereka yang tetap saling melindungi saat digiring masuk ke mobil polisi, membuat saya hampir menangis.
Ada juga kisah tentang sekelompok queer yang mengepung seorang Nazi, menghajarnya sampai tulangnya patah dan wajahnya babak belur, lalu menaburinya dengan glitter. Meski brutal, cerita itu tetap meninggalkan kesan. Sayangnya, cerita-cerita semacam ini hanya muncul sesekali.
Saya cukup menikmati bagian-bagian yang bercerita tentang sejarah bajak laut trans, pemberontak, pencuri, pekerja seks, dan masyarakat adat yang melawan dan kadang bertikai. Tapi sisanya terasa seperti pengisi halaman saja. Buku ini juga tidak terlalu peduli dengan kenyataan bahwa gerakan ini gagal mencapai hasil yang nyata.
Meski banyak bicara soal insureksi dan “revolusi semu”, buku ini lebih terasa sebagai upaya dari seorang anarkis otonom untuk mendapatkan 15 menit ketenaran. Tapi untuk percikan semangat yang mereka nyalakan saat itu, aku akan memberikan tepuk tangan.
Saya tetap menghargai usaha mereka, seperti saya menghargai setiap upaya trans untuk melawan penindasan dengan cara mereka sendiri. Insureksi adalah salah satu taktik penting dalam gerakan anarkisme, tapi sering kali tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin itu memang maksud dari Queer Ultraviolence—untuk merayakan sisi “fun” dari pemberontakan. Mungkin juga buku ini diniatkan sebagai semacam panduan untuk memberdayakan diri. Tapi tetap saja, saya tidak bisa mengabaikan kesan bahwa buku ini malah ikut melanggengkan maskulinitas toksik yang sering muncul di ruang-ruang queer radikal. Bentuk kekerasan dan elitis yang justru memecah-belah kita. Ini adalah pendekatan yang ironisnya sangat kapitalistik—yang lemah akan tersingkir, dan yang kuat akan dipuja sebagai pahlawan.
Apakah ini buku terbaik tentang anarkisme queer? Jelas tidak. Tapi tetap saya sarankan untuk membelinya, kalau bukan karena isinya, setidaknya karena hasil penjualannya akan diberikan kepada perempuan trans yang dipenjara. Mereka benar-benar butuh bantuan kita. Mereka hidup dalam lingkungan yang sangat berbahaya. Uang yang kamu sumbangkan lewat buku ini akan sangat berarti. Anggap saja buku ini sebagai cara untuk sedikit mengurangi penderitaan para trans yang terperangkap dalam sistem penjara yang bisa saja menghancurkan mereka sebelum sempat mendapatkan kebebasan kedua. Lagipula, kamu pasti tetap bisa belajar satu dua hal dari buku ini.
Seluruh hasil publikasi didanai sepenuhnya oleh donasi. Jika kalian menyukai karya-karya kami, kalian dapat berkontribusi dengan berdonasi. Temukan petunjuk tentang cara melakukannya di halaman Dukung C4SS: https://c4ss.org/dukung-c4ss.