Pelarangan Tidak Akan Pernah Berhasil

Oleh: Logan Marie Glitterbomb. Teks aslinya berjudul “Prohibition Still Doesn’t Work.” Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.

Alabama, Georgia, Texas, Ohio, Kentucky, Mississippi. dan Missouri menjadi pusat perhatian masyarakat karena mereka menerbitkan –pelarangan yang sangat ekstrem dan inkonstitusional– undang-undang anti-aborsi. Tujuan dari hukum ini –diklaim– adalah untuk menurunkan angka aborsi, hingga ke angka nol. Masalahnya adalah, bagaimanapun juga, pembatasan tidak pernah berhasil untuk mencapai tujuan-tujuan seperti ini. Bahkan meskipun ada satu orang pro-life yang ingin menurunkan angka aborsi, itu tidak akan mengubah fakta yang ada bahwa kriminalisasi terhadap aborsi hanya akan meningkatkan jumlah aborsi tidak aman, alih-alih menurunkannya secara keseluruhan.

Sama seperti yang terjadi pada era pelarangan alkohol AS (1920-1933), Perang Melawan Narkoba, dan pelarangan prostitusi, atau berbagai tindakan serupa lainnya telah menunjukan bahwa pelarangan tidak akan berhasil untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul dan bahkan memperburuknya. Pelarangan alkohol menyebabkan lahirnya mafia dan distribusi melalui pasar bawah tanah yang dilakukan oleh penyelundup. Pelarangan juga mengakibatkan hilangnya upaya edukasi mengenai meminum alkohol secara bertanggungjawab, yang mengakibatkan tingginya resiko kesehatan dan kejahatan akibat konsumsi alkohol “ilegal” yang tidak aman. Seperti yang mungkin dapat kalian bayangkan, masalah ini akan berdampak pada banyak hal, mulai dari mengemudi sambil mabuk.

Pelarangan narkotika melalui Perang Melawan Narkoba mengakibatkan bukan hanya pemenjaraan massal, tapi juga mencegah seseorang untuk dapat mengakses pengobatan yang dibutuhkan karena kekhawatiran dianggap terlibat dalam perdagangan narkoba. Perang Melawan Narkoba telah memisahkan banyak orang dari keluarganya dan menghilangkan banyak nyawa. Solusi libertarian adalah untuk mendekriminalisasi semua jenis narkotika dan berfokus pada edukasi, pengobatan, dan pengurangan dampak buruk. Hal ini bukan berarti bahwa semua libertarian merupakan pengguna narkotika, kami hanya menyadari dampak-dampak yang menghancurkan dari pelarangan narkotika. Faktanya, banyak libertarian yang menjadi straight edge, atau bahkan menentang penggunaan narkotika secara keseluruhan, sambil menyadari bahwa Perang Melawan Narkoba tidak menghasilkan apapun dalam menurunkan angka penggunaan narkotika dan bahkan lebih banyak dampak negatif dibanding dampak positif.

Pelarangan prostitusi juga gagal dalam menghapuskan pasar prostitusi. Yang terjadi adalah justru membuat pasar prostitusi menjadi lebih berbahaya bagi para pekerja seks. Sensor internet telah menghilangkan beberapa sumber periklanan dan streaming yang menjadi salah satu sumber pendapatan bagi para pekerja seks. Kriminalisasi pekerja seks juga mencegah mereka untuk dapat melaporkan kekerasan dan pelecehan yang mereka terima dari klien maupun mucikari. Dekriminalisasi pekerja seks akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi mereka untuk dapat membela dirinya sendiri, berserikat, jaminan kesehatan bagi pekerja, dan banyak lainnya. Ini semua adalah tentang pengurangan dampak buruk.

Pendekatan pengurangan dampak buruk yang sama juga dapat diterapkan pada masalah aborsi. Bahkan jika seseorang sangat percaya bahwa kehidupan bermula sejak pada saat pembuahan, sangatlah sulit untuk menganggap bahwa pelarangan merupakan solusi yang efektif dari perspektif libertarian. Tentu saja, undang-undang yang banyak di sahkan di banyak negara bagian saat ini seperti di Georgia dan Alabama tidak dapat dianggap sebagai tindakan libertarian karena undang-undang tersebut menggunakan penahanan massal sebagai alat pengontrol, yang bahkan menargetkan dan melecehkan mereka yang mengalami kejadian keguguran, namun disaat yang sama, justru tidak menyentuh akar permasalahahan yang ada.

Pelarangan aborsi tidak dapat dibuktikan sebagai cara yang efektif untuk menurunkan angka aborsi dan justru meningkatkan aborsi ilegal dan tidak aman. Baik melalui metode seperti memesan obat penggugur secara daring, penggugur herbal, atau melalui tenaga medis yang tidak tersertifikasi. Ini bukan hanya menempatkan sang bayi dalam distuasi beresiko tapi juga orang tuanya dalam resiko medis hingga kematian. Jika tujuannya adalah benar-benar mengenai menyelamatkan kehidupan, maka mengadvokasi situasi yang menempatkan orang tua dan anak dalam bahaya yang lebih besar untuk memerangi sistem yang hanya menempatkan sang bayi saja dalam bahaya tampaknya akan menjadi kontraproduktif.

Jika kita ingin fokus pada upaya untuk benar-benar menurunkan angka aborsi dan bukan hanya sekedar memberikan sinyal kebajikan melalui langkah-langkah legislatif yang tidak efektif dan kontraproduktif, maka kita kini perlu beralih untuk fokus pada akar penyebab dari banyaknya aborsi. Ini meliputi berbagai faktor seperti kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, rendahnya sumber daya, rendahnya edukasi seksual, dll. Dengan memasukan faktor-faktor seperti ini, solusinya mulai terlihat jauh berbeda. Maka solusi yang muncul adalah memperjuangkan hal-hal seperti cuti kerja untuk orang tua, jaring pengaman sosial yang layak, upah layak, perumahan terjangkau, jaminan kesehatan, perbaikan sistem pendidikan, lembaga penitipan anak yang layak dan terjangkau, sistem adopsi yang lebih mudah diakses, edukasi seksual yang terbuka dan jujur, akses terhadap kontrasepsi, dan diakhirinya rape culture.

Tentu saja, solusi-solusi ini tidak harus datang dari tangan negara. Kaum libertarian dan anarkis dari berbagai zaman telah berupaya untuk mencari solusi terhadap permasalahan aborsi selama beberapa dekade dengan posisi anti-pelarangan, dan beberapa dari mereka bahkan memiliki kepercayaan pro-life. Dua contohnya adalah para penganut evictionism dan pendiri Planned Parenthood, Margaret Sanger.

Evictionism merupakan teori moral libertarian mengenai aborsi, didasarkan pada hak properti ala Locke, diciptakan dan dikembangkan oleh Walter Block dan Roy Whitehead. Evictionism mengambil pendekatan yang sangat unik, dimana mereka percaya bahwa kehidupan bermula sejak dari pembuahan namun mereka juga percaya pada otonomi tubuh, dan kemudian membagi aborsi menjadi dua masalah yang terpisah: 1) Pengeluaran janin dari rahim, dan 2) Kematian dari janin tersebut. Mengikuti prinsip tradisional kaum libertarian yang menentang penyerangan dan pembunuhan, maka masuk akal bagi libertarian untuk mendukung hak otonomi tubuh bagi orang yang hamil sambil menentang kematian janin.

Evictionism juga mengajukan sebuah sistem “pengasuhan” dimana mereka yang menginginkan mengakhiri kehamilannya dapat mengumumkan hak asuh atas janin tersebut dan mengizinkan orang lain untuk merawat anak yang tengah dikandung tersebut. Bila gagal untuk menemukan “pengasuh” untuk sang janin, maka orang tersebut dapat memilih aborsi sebagai opsi cadangan. Perbedaan antara metode ini dari pengadopsian anak tradisional adalah metode ini mempromosikan penggunaan kemajuan teknologi medis untuk meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup di luar rahim pada tahap perkembangan yang jauh lebih awal, yang berarti bahwa seseorang berpotensi dapat mengeluarkan janin tanpa membunuhnya. Hal ini dilihat oleh para evictionist sebagai pilihan yang lebih baik daripada aborsi jika tersedia dan dengan kemajuan dalam ilmu kedokteran kandungan selama beberapa dekade terakhir yang menyebabkan penurunan batas bawah kelangsungan hidup (yang sudah berada pada usia kehamilan sekitar 5 bulan) hal ini menjadi semakin mungkin untuk menjadi opsi alternatif.

Opsi lainnya muncul dari aktivis kontrol-kelahiran terkenal. Margaret Sanger. Meskipun ada rumor yang beredar bahwa ia mempromosikan eugenika, ia merupakan seorang anti-fasis sepanjang hidupnya, dan meskipun banyak yang mungkin tidak mengetahuinya, ia bahkan seorang anarkis yang amat berdedikasi. Dimana ia kerap terlihat bersama Emma Goldman dan menulis publikasi seperti The Woman Rebel (yang memiliki slogan “No Gods, No Masters”) yang mungkin mengejutkan banyak orang, terlebih lagi, mengetahui bahwa motivasinya dalam memperjuangkan kontrasepsi dan pendidikan seksual meskipun ia berpandangan pro-life. Pada awal aktivismenya, ia dikenal karena pandangan anti-aborsinya, sambil memperjuangkan kontrol kelahiran sebagai cara menurunkan angka aborsi dengan menggunakan slogan pro-life seperti “Jangan membunuh, jangan mengakhiri kehidupan, tapi cegahlah,” dan bahkan memperingatkan pasian: “aborsi merupakan jalan yang salah – tidak peduli seawaal apapun itu dilakukan, itu tetap mengakhiri kehidupan; kontrasepsi merupakan jalan yang lebih baik, jalan yang lebih aman – itu hanya memerlukan sedikit waktu, sedikit masalah, tapi itu lebih sepadan pada jangka panjang, karena kehidupan bahkan belum dimulai.”

Bahkan ketika memperjuangkan akses terhadap metode aborsi yang legal dan aman, Sanger sambil tetap melanjutkan perjuangannya untuk menurunkan angka kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi melalui edukasi seksual dan akses terhadap alat kontrasepsi. Sayangnya pada kondisi modern hari ini, akan sangat sulit untuk mengetahui bahwa Planned Parenthood berada dalam sisi yang sama dengan politik Sanger, meskipun hal ini merupakan cara untuk membangun jembatan potensial antara mereka dan para feminis pro-life yang mungkin juga skeptis terhadap pelarangan.

Grup-grup seperti New Wave Feminists dan In Defense of Life telah mengambil pendekatan yang serupa. Keduanya mencampurkan perspektif feminisme interseksional medern mengenai keadilan sosial dengan Etika Konsisten Kehidupan yang lebih tradisional seperti yang dianut oleh Gereja Katolik dan pendukung keadilan sosial lainnya, namun sambil tetap menentang pelarangan. New Wave Feminists tidak “berjuang membuat aborsi menjadi ilegal, [kami] berjuang untuk membuat aborsi menjadi tidak terpikirkan dan tidak dibutuhkan. Dan [kami] melakukannya dengan menyentuh pada akar dari permasalahan yang ada.” Grup seperti Feminists For Live, Susan B. Anthony List, dan Feminist for Nonviolent Choices, pada sisi lain cenderung untuk mencoba menyentuh akar dari aborsi sambil terus mengadvokasi pelarangan aborsi dan akan mendapatkan keuntungan dari interaksi yang lebih terbuka dari para libertarian pro-life yang anti-pelarangan untuk mendorong mereka menuju solusi yang lebih holistik.

Solusi-solusi tersebut dapat diciptakan dengan mendukung gerakan serikat akar rumput yang kuat sehingga dapat memperjuangkan jaminan kesehatan, cuti orang tua, upah minimum yang layak, melawan hambatan-hambatan dalam sistem adopsi sehingga lebih banyak anak kesempatan untuk menemukan keluarga yang penuh kasih sayang, membangun dan berpartisipasi dalam jaringan gotong royong komunitas untuk membantu memenuhi kebutuhan penitipan anak, makanan, kebutuhan bayi, perumahan, dan berbagai kebutuhan harian maupun darurat, menyediakan akses terhadap kontrasepsi, dan memberdayakan masyarakat dengan mengedukasi mereka terkait konsen dan pendidikan kesehatan reproduksi yang inklusif.

Kita dapat memperdebatkan mengenai moral agama dalam aktivitas seksual dan bahkan mendorong anak-anak kita dan orang lain untuk mengadopsi moral seksual kita, tapi dari pola pandang untuk mengurangi dampak buruk, sejujurnya edukasi seksual masih menjadi kebijakan terbaik. Mendidik orang-orang untuk dapat tetap aman selama menjalankan aktivitas seksual tidak lah sama dengan mendorong untuk melakukan aktivitas seksual. Hal ini justru meberikan pendidikan seksual yang terbuka sambil memberikan informasi kepada anak-anak untuk tidak melakukan aktivitas seksual sebelum usia yang layak. Kita perlu mengingat bahwa keputusan medis privat atau kepercayaan agama tidak boleh diatur melalui sistem legislasi.

Dalam menanggapi undang-undang larangan aborsi, tujuan pertama kita hendaknya adalah bagaimana untuk menyediakan akses aborsi yang aman. Untungnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah berkembang pesat dari tahun ke tahun dan menjadikan aborsi aman lebih mudah untuk dilakukan meski dilakukan secara “ilegal.” Meskipun melakukan aborsi secara ilegal dapat meningkatkan resiko untuk menjadi sasaran kekerasan polisi dan pemenjaraan, namun setidaknya kini, resiko kesehatan telah dapat diminimalisir.

Seperti yang telah dinyatakan oleh Beau of the Fifth Column, banyak aborsi yang dilakukan saat ini dilakukan menggunakan obat-obatan yang ditelan. Bahkan ketika obat-obat ini dilarang digunakan untuk tujuan aborsi, mereka akan terus ada di pasaran karena bersifat serba guna untuk berbagai indikasi medis. Ini membuka pintu bagi para agoris yang gigih dan kontra-ekonominya untuk membuka akses ke obat-obatan tersebut bagi mereka yang tengah berada dalam keadaan kehamilan yang tidak diinginkan. Jika seseorang ingin menjadi lebih profesional dengan usaha seperti itu, mesin sonogram dapat diperoleh dengan mudah hanya dengan beberapa ratus dolar secara daring. Entah itu melalui dokter maupun perawat profesional yang menyediakan layanan secara sembunyi-sembunyi kepada mereka yang membutuhkan, atau masyarakat biasa yang memiliki kepedulian lebih yang belajar dan berlatih untuk dapat menyediakan pelayanan terbaik yang ia mampu, kita perlu untuk mendorong akses aman seperti ini sebagai cara untuk mencegah tingginya angka kematian akibat aborsi tidak aman yang cenderung meningkat ketika ada pelarangan aborsi.

Meskipun kelompok-kelompok seperti New Wave Feminists dan In Defense of Life merupakan sebuah permulaan, kita masih membutuhkan suara dari para libertarian yang lebih radikal untuk memasuki arena percakapan untuk mencegah para pro-life mendekatkan diri pada gagasan bahwa pelarangan aborsi sebagai solusi. Kita membutuhkan usaha dari para agoris untuk menyediakan jasa aborsi aman sehingga dapat menurunkan angka kematian akibat aborsi ilegal yang tidak aman. Kita membutuhkan usaha dari para ilmuwan dan tenaga medis profesional untuk dapat meningkatkan kelangsungan hidup janin yang lahir prematur. Entah sebagai pro-life atau pro-choice, kita harus mampu menemukan titik temu dalam perjuangan melawan pelarangan aborsi dan perjuangan melawan rape culture, kemiskinan, dan pendidikan seksual yang tidak memadai. Kita hanya perlu untuk menyadarkan orang-orang bahwa isu-isu ini sebenarnya saling bersinggungan.

Seluruh hasil publikasi didanai sepenuhnya oleh donasi. Jika kalian menyukai karya-karya kami, kalian dapat berkontribusi dengan berdonasi. Temukan petunjuk tentang cara melakukannya di halaman Dukung C4SS: https://c4ss.org/dukung-c4ss.

Anarchy and Democracy
Fighting Fascism
Markets Not Capitalism
The Anatomy of Escape
Organization Theory