Oleh: Rai Ling. Teks aslinya berjudul “Stirner, Wittgenstein, and Anarchism”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Iman Amirullah.
Support Iman Amirullah by considering becoming his Patron.
Karya Max Stirner merupakan topik yang cukup kontroversial di kalangan anarkis, dengan beragam tafsir, mulai dari yang bersifat deskriptif sebagai kerangka berpikir, hingga yang bersifat preskriptif yang mendorong anti-otoritarianisme dan komitmen terhadap “individualisme.” Posisi saya adalah bahwa egoisme pada dasarnya bersifat deskriptif. Pembedaan utama yang dibuat Stirner, antara ide yang tetap dan tidak tetap, serta egoisme sadar dan tidak sadar, tidak mengarah pada kesimpulan normatif apapun, meskipun Stirner secara pribadi jelas menentang negara dan otoritas secara umum. Sebaliknya, banyak anarkis menjadi egois karena mereka menemukan nilai personal dalam perspektif tersebut. Egoisme, dalam hal ini, memiliki hubungan yang sekaligus sangat erat dan sama sekali tidak berkaitan dengan anarkisme.
Dalam The Unique and Its Property, Stirner menulis bahwa ia telah “mendasarkan urusannya pada ketiadaan.” Ketiadaan yang dimaksud bukanlah kekosongan dalam arti biasa, melainkan “ketiadaan kreatif” atau yang unik, sebuah kekosongan internal, atau ketaktertentuan, yaitu ketiadaan aturan apapun yang menentukan bagaimana kita seharusnya membentuk konsep. Hal ini dapat dibandingkan dengan konsep yang tak terkatakan seperti śūnyatā dalam Buddhisme atau Dao dalam Daoisme. Stirner tidak membahas seperti apa bentuk “urusan” tersebut atau bagaimana seharusnya dijalankan, melainkan hanya pada apa ia “didasarkan.” Dengan demikian, mendasarkan urusan pada ketiadaan berarti secara sadar mendasarkan diri pada kekosongan, suatu non-konsep yang tidak dapat didefinisikan, tanpa bentuk esensial maupun ideal, dan tanpa rujukan pada konsep apa pun, termasuk hasrat, pikiran, atau kesadaran.
Proses menjadi dari kekosongan ini dapat dipahami sebagai kehendak atau hasrat yang muncul seketika dari ketiadaan kreatif, lalu membentuk konsep-konsep yang “menyenangkan” atau berguna baginya. Setiap subjek dapat dikatakan mengekspresikan dan bertindak berdasarkan hasratnya, sehingga Stirner berpendapat bahwa semua orang pada dasarnya adalah egois, sejalan dengan teori egoisme psikologis. Individu yang secara sadar berkembang dari ketiadaan disebut sebagai egois sadar. Stirner membedakannya dengan egois tidak sadar, yaitu mereka yang tidak menyadari “yang unik” dan justru mengaitkan hasrat mereka pada abstraksi seperti diri, pikiran, otak, atau bentuk-bentuk Platonik. Hal ini melahirkan apa yang disebut Stirner sebagai ide tetap, yaitu konsep yang dianggap benar-benar ada di dunia sebagai sesuatu yang objektif, bukan sebagai hasil dari kekosongan.
Pendekatan Stirner ini memiliki kemiripan dengan problem skeptisisme yang diangkat Ludwig Wittgenstein dalam Philosophical Investigations, yang menunjukkan bahwa tidak ada prinsip “di luar sana” yang menentukan bagaimana kita harus membentuk makna melalui definisi, tata bahasa, atau logika. Realitas, dalam arti tertentu, dibentuk melalui bahasa. Meskipun Wittgenstein tidak secara eksplisit menyatakan adanya “kekosongan” di balik definisi tersebut, hal itu tersirat dalam argumennya. Ia menunjukkan bahwa setiap “hal” tampaknya tidak memiliki esensi tetap. Konsep hanyalah abstraksi yang berguna, yang bisa runtuh ketika kita mengubah perspektif, baik ketika memperbesar, memperkecil, atau melihat dalam rentang waktu yang berbeda. Jika perspektif ini adalah bentuk penyederhanaan, maka kita harus bertanya, relatif terhadap apa. Jawabannya biasanya adalah terhadap sistem bahasa lain dengan definisi yang berbeda. Dengan demikian, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar ada secara tetap dan terpisah dari pikiran. Bahkan “eksistensi” sendiri hanyalah kategori yang kita lekatkan pada konsep, yang pada akhirnya bersifat sementara dan berubah-ubah. Tidak ada sesuatu pun yang ada dalam dirinya sendiri.
Posisi Stirner sering disebut nihilistik karena ia menolak keberadaan esensial, termasuk konsep diri. Jika skeptisisme didorong melampaui cogito ergo sum milik Descartes, yang tersisa hanyalah “pikiran” tanpa isi tetap. Konsep-konsep terus muncul secara rekursif dalam pikiran, yang kemudian memberi label pada dirinya sendiri sebagai “pikiran,” “pengalaman subjektif,” atau “keberadaan.” Diri sebagai objek refleksi hanyalah konstruksi dalam pikiran yang berkembang bersama konsep lain, semuanya berakar dari ketiadaan kreatif. Tidak ada cara normatif tentang bagaimana kita seharusnya memahami diri, atau bahkan apakah kita perlu memilikinya. Stirner menolak keberadaan inheren diri sebagaimana ia menolak keberadaan objektif semua konsep.
Namun penting untuk ditekankan bahwa ini tidak berarti menolak konsep tertentu, melainkan menyediakan kerangka untuk memahami bagaimana konsep terbentuk, apakah sebagai ide tetap atau tidak tetap. Seseorang bisa memiliki konsep diri yang fleksibel dan berguna, atau konsep diri yang kaku dan dianggap tetap. Hal ini juga berlaku untuk konsep lain, termasuk anarkisme. Penolakan terhadap otoritas bisa dipahami sebagai kewajiban moral, preferensi pribadi, atau sesuatu yang dianggap berguna. Kegunaan ini tidak identik dengan egoisme sempit, karena seseorang bisa menemukan nilai dalam altruism. Contoh lain adalah kursi. Apakah kursi itu benar-benar ada sebagai entitas objektif, atau sekadar konsep praktis dalam kerangka kita untuk duduk. Jika dianggap sebagai entitas objektif, ia menjadi ide tetap. Jika dilihat sebagai konsep yang berguna, ia menjadi tidak tetap.
Pertanyaan berikutnya adalah, jika egoisme tidak berkaitan dengan isi gagasan, apa gunanya egoisme sadar. Jawabannya adalah tidak ada tujuan inheren. Egoisme bukanlah pro maupun anti-otoritarian. Ia hanya membedakan antara ide tetap dan tidak tetap, sehingga posisinya mirip dengan meta-etika terhadap etika. Ia tidak membahas isi nilai, tetapi dasar kosong di baliknya.
Sebagai contoh, ambil isu “moralisme,” yang banyak ditentang oleh mereka yang menyebut diri sebagai egois. Bagi seorang egois sadar yang konsisten, moralitas adalah ide tetap secara definisi, sebuah pernyataan kebenaran, sesuatu yang dianggap ada secara objektif, baik tertanam dalam struktur otak maupun mengambang sebagai bentuk-bentuk Platonik. Seorang egois, sebaliknya, dapat mengekspresikan nilai sebagai preferensi pribadi, di mana nilai kebenaran dilekatkan pada ekspresi yang bersifat utilitarian, membentuk tautologi berdasarkan penerapan logika dan definisi yang berguna. Mengatakan bahwa “mencuri itu salah” berarti mendefinisikan pencurian sebagai pengambilan tanpa persetujuan, atas dasar sesuatu yang ditolak karena alasan pribadi. Demikian pula, pernyataan bahwa “kursi itu merah” tidak benar secara inheren, melainkan benar berdasarkan definisi seseorang tentang “merah” dan “kursi,” dengan merujuk pada bagian tertentu dari spektrum elektromagnetik, kegunaan praktis suatu objek untuk duduk, serta penggunaan operator logika untuk menyampaikan “kebenaran.” Tentu saja, ini adalah persoalan definisi. “Moralitas” tidak harus didefinisikan secara objektif, tetap, atau esensial; sifat moralitas sendiri merupakan perdebatan dalam bidang meta-etika, tetapi disini saya menjelaskan bagaimana seorang anti-moralis dapat secara konsisten mempertahankan posisi ini dalam kerangka pembedaan utama Stirner.
Namun, tuduhan “moralisme” sering digunakan secara tidak konsisten, sebagai cara untuk memutus diskusi; penggunaan klaim meta-etis untuk meniadakan nilai normatif menjadi tidak konsisten karena egoisme tidak menentukan isi hasrat. Mengatakan kepada seseorang bahwa keyakinan moral mereka tidak “ada” tidak menyentuh isi keyakinan tersebut, sama seperti mengatakan bahwa kursi tidak “ada” tidak akan membuat seseorang berhenti mempercayai keberadaan kursi. Sebaliknya, lebih masuk akal untuk menunjukkan inkonsistensi dan masalah dalam posisi satu sama lain berdasarkan aksioma yang sama. Misalnya, seseorang dapat mengatakan bahwa “mencuri itu salah” tanpa menjadi moralistik, tergantung bagaimana ia mengonseptualisasikan “kesalahan” dalam kerangka meta-etika. Untuk contoh yang lebih kontroversial, tidak selalu moralistik untuk mengatakan bahwa “seseorang memiliki kewajiban untuk mengabdi pada negara,” tergantung bagaimana konsep “kewajiban” dan “negara” dipahami. Memang, “kewajiban” dan “negara” biasanya merupakan ide tetap, tetapi contoh ini membantu memperjelas apa yang dimaksud dengan ide tetap, sekaligus menunjukkan bahwa ada juga interpretasi Stirner yang relatif konsisten di kalangan kanan politik. Jika seseorang mengalami “panggilan yang lebih tinggi,” yang penting dalam pembedaan Stirner adalah sifat spesifik dari panggilan tersebut: apakah ia merupakan ekspresi sadar dari hasrat yang muncul dari ketiadaan, atau justru membenarkan dirinya melalui jaringan konsep eksternal. Tidak ada kata yang secara inheren moralistik (di sini saya mendefinisikan moralitas dalam kaitannya dengan ide tetap), meskipun banyak yang lebih sering digunakan secara moralistik.
Egoisme juga sering disamakan dengan relativisme moral dan secara khusus digunakan untuk mengkritik konsep moralitas, yang sebenarnya merupakan kesalahpahaman terhadap Stirner. Gagasan tentang ide tetap dapat diterapkan pada semua konsep. Selain itu, seorang egois secara konsisten dapat memaksakan nilainya pada orang lain, mengklaim bahwa nilainya lebih penting, menggunakan paksaan, bahkan membuat klaim “universal” (bukan sebagai kebenaran, tetapi sebagai pernyataan). Misalnya, tidak selalu moralistik untuk berargumen bahwa kita harus secara universal anti-rasis. Seorang nihilis dapat memegang posisi apapun yang ia inginkan karena nihilisme tidak membenarkan maupun menolak apa pun.
Sekarang, dengan mempertimbangkan klarifikasi ini, kita dapat kembali pada pertanyaan “apa sebenarnya tujuan dari egoisme sadar?” Tidak ada tujuan inheren dalam menjadi egois sadar. Seorang egois sadar yang konsisten mungkin akan mengatakan bahwa ini kembali pada hasratnya sendiri. Mungkin ia menemukan kenyamanan dalam ketiadaan dan perubahan. Stirner sendiri memberikan alasan, dengan menyatakan bahwa seseorang dapat “dikuasai” oleh ide tetap atau “pikiran absolut,” bahwa moralitas memiliki “kekuasaan” atas roh, dan bahwa “roh cinta” dapat memperbudak seseorang, seolah-olah egoisme tidak sadar adalah bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri. Di sini, “menguasai” tidak berarti kekuasaan otoritas, melainkan penyangkalan diri akibat egoisme tidak sadar. Salah satu contohnya adalah seseorang yang menahan diri secara seksual karena merasa memiliki panggilan yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki hasrat untuk berhubungan seks. Dalam pengertian yang serupa, Wittgenstein menyatakan bahwa seseorang dapat “terperangkap dalam sebuah gambaran,” di mana “gambaran” tersebut adalah kerangka objektif tentang realitas yang dianggap bukan sekadar berguna, tetapi wajib, sehingga seseorang terus mencari kebenaran di tempat yang sebenarnya tidak ada. Meskipun bahasa yang digunakan tampak preskriptif, ini bukanlah kontradiksi dalam pemikiran Stirner, melainkan ekspresi dari preferensi pribadinya (bukan sesuatu yang secara logis mengikuti dari egoisme). Egois tidak sadar tetap muncul dari ketiadaan, meskipun secara tidak sadar, dan kemunculan ini tetap merupakan fungsi dari hasrat, yaitu sifat dari yang unik.
Secara pribadi, saya tidak mempermasalahkan jika seseorang merasa puas memandang anarkisme sebagai kewajiban, selama saya tidak berbeda dengan isi keyakinan mereka. Memegang ide tetap, seperti meyakini bahwa eksistensi lebih dari sekadar konsep yang berguna, melainkan sifat esensial dari alam semesta, dan bahwa kita dapat mengetahui hakikat eksistensi secara pasti, adalah sesuatu yang dianut banyak orang. Hal yang sama berlaku untuk nasionalisme, yang saya tolak bukan karena sifatnya sebagai ide tetap (karena tidak selalu demikian), tetapi karena isinya. Meskipun hasrat seseorang dapat berubah setelah menolak ide tetap, nilai dan ideal yang muncul dari egois tidak sadar dapat saja identik dengan yang dimiliki egois sadar, yang mungkin memperlakukan eksistensi dan kebenaran sebagai konsep yang berguna dan dapat diolah dalam berbagai cara, sebagian lebih berguna dibanding yang lain.
Meskipun tidak ada tujuan utama dalam egoisme, kita tetap dapat bertanya mengapa para anarkis, khususnya, tertarik pada egoisme. Hal pertama yang muncul adalah gagasan Stirner tentang “union of egoists,” yaitu asosiasi anarkis dari egois sadar yang hanya bertahan selama ada persetujuan berkelanjutan. Gagasan ini merupakan spekulasi tentang bagaimana interaksi konsensual antar egois sadar dapat berlangsung, di mana individu bekerja sama secara sadar untuk memenuhi hasrat masing-masing. Namun, seorang egois sadar tidak harus menjadi bagian dari union of egoists, karena ia tetap dapat memaksakan kehendaknya pada orang lain. Konsep seperti nasionalisme bahkan secara otomatis menutup kemungkinan adanya union of egoists karena bergantung pada hubungan yang tidak konsensual. Selain itu, seseorang tidak harus menjadi egois sadar untuk menjadi anarkis; seseorang dapat berpartisipasi dalam asosiasi non-hierarkis yang konsensual sambil tetap memegang ide tetap.
Alasan lain mengapa banyak anarkis tertarik pada egoisme adalah karena penolakan terhadap ide tetap menunjukkan bahwa tidak ada paradigma yang benar secara absolut, melainkan hanya paradigma yang berguna bagi individu, dimana segala sesuatu bersifat subjektif. Dari perspektif ini, tidak ada dasar tetap bagi “harus” universal yang dapat digunakan untuk melegitimasi kekuasaan, sehingga kekuasaan kehilangan dasar ontologis dan epistemologisnya. Misalnya, egoisme meniadakan narasi seperti kemajuan, gender, sains, dan bangsa sebagai kebenaran absolut, dan memposisikannya sebagai konsep yang berguna yang diadopsi individu karena alasan tertentu.
Namun, bertentangan dengan anggapan banyak orang, fakta bahwa egoisme meniadakan fondasi filosofis tidak berarti bahwa seorang egois wajib menghargai subjektivitas orang lain. Tidak ada prinsip dalam egoisme yang mengharuskan seorang egois untuk tidak mengejar otoritas epistemologis atau ontologis demi kepentingannya sendiri, melainkan hanya bagaimana ia mengonseptualisasikan alasan tersebut. Sebaliknya, anarkis egois yang konsisten memilih menghargai subjektivitas karena hal itu menyenangkan bagi mereka; mereka lebih memilih union of egoists. Seseorang yang percaya pada kebenaran, eksistensi, dan moralitas pun dapat menekankan pentingnya subjektivitas identitas personal, bahkan di tengah kontradiksi yang tampak. Secara pribadi, saya menolak konstruksi yang meniadakan ekspresi diri atau yang secara historis, empiris, maupun intuitif keliru atau tidak berguna bagi saya.
Dalam Philosophical Investigations, Wittgenstein mengatakan, “jangan berpikir, tetapi lihat.” Maksudnya, karena semua upaya untuk mendefinisikan dunia melalui kondisi yang perlu dan cukup selalu tidak memadai, mungkin lebih baik untuk mendeskripsikan dunia sebagaimana kita mengalaminya. Sifat dari “pengalaman” ini bisa berupa sistem tanda yang kompleks dan saling terkait, atau seperangkat definisi sederhana yang tidak merepresentasikan subjektivitas individu. Oleh karena itu, agar dunia dapat diorganisasi secara monolitik, diperlukan semacam pemaksaan dari atas. Namun demikian, seseorang dengan teori moralitas yang subjektif tetap dapat memiliki pandangan yang meniadakan subjektivitas, hanya saja ia tidak menggunakan bahasa objektivitas untuk mengekspresikan posisinya. Demikian pula, seseorang yang memandang sesuatu sebagai objektif dapat menolak memaksakan pandangannya pada orang lain, meskipun tetap meyakininya sebagai benar. Perbedaan antara egoisme sadar dan tidak sadar pada akhirnya adalah kesadaran meta terhadap semua nilai. Seseorang melihat nilai sebagai berasal dari ketiadaan atau dari sistem objektif seperti hak alamiah. Objektivitas dan subjektivitas adalah pembedaan yang berguna dalam pengertian ini, tetapi tidak membawa konsekuensi normatif apa pun.






