KERUSUHAN YANG KREATIF DARI KEHANCURAN BUDAYA

Pada hari Selasa 1 Mei 2018  dalam peringatan Hari Buruh di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indonesia adalah bentuk tidak adanya demokrasi dalam kehidupan sosial, di mana kota ini telah memiliki slogan sebagai kota terpelajar, berbudaya, serta ramah. Aksi yang terjadi pada saat itu, saat para black bloc Yogyakarta melakukan aksi perlawanan terhadap feodalisme serta neoliberalisme dalam tonggak kapital kerajaan Yogyakarta, yang berdampak pada rasisme, perampasan hak hidup, ketidakadilan sosial dalam pendidikan, seni dan budaya, hingga ekonomi telah mendapat sambutan berupa represi kekerasan anggota kepolisian kepada pemuda yang videonya sempat menjadi viral di media sosial saat sedang dipukuli.  Tentu saja, hal ini adalah konyol. Bagaimana tidak, bahwa sejarah 1 Mei memiliki dua momentum di Indonesia; 1 Mei 1886 Hari Kebangkitan Kaum Tertindas atau Pekerja (Labor’s Day), serta 1 Mei 1963 Hari Aneksasi (perebutan bangsa Papua Barat oleh Indonesia) Papua Barat (West Papua) oleh Indonesia.

Namun pada kenyataannya, di negara yang telah menggemakan demokrasi, suara manusia tidak memiliki kekuatan apa pun selain melakukan ritual penyembahan-penyembahan kepada aliran politik, kelas sosial, dan tentunya kapital popular. Aku sendiri enggan bersolidaritas di tahun ini, karena aku tahu, tahun dua ribu delapan belas ini merupakan tahun politik pemilihan presiden untuk tahun depan. Kekuatan kapital akan lebih mendominasi bagi kebanyakaan yang hadir, dan itu telah terbukti dengan apa yang terjadi di Jakarta, black bloc Jakarta diserang oleh sebuah organisasi buruh karena membawa spanduk bertuliskan ejekan kepada oknum politik, buruh, serta aktivis yang memilih mendua dalam pergerakan. Tentunya, spanduk itu menjadi bukti, di hari yang sama, sekelompok buruh mengikuti pawai akbar salah satu calon presidan Indonesia di mana tampak juga para pimpinan kelompok buruh melakukan makan bersama para pejabat birokrasi saat kaum buruh berpanas-panasan di lapangan, hingga ada yang mengalami bentrok dengan aparat militer. Terlepas dari apa yang terjadi di Jakarta, black bloc Bandung sedikit lebih aman, meski tetap tersisipi intel militer di dalam barisan mereka.

Kembali ke topik di atas, apa yang dialami black bloc Yogyakarta bagiku adalah pukulan keras bagi hak hidup manusia, di mana mereka akhirnya menjadi tersudut, serta disudutkan berbagai tulisan yang mencoba membersihkan nama-namanya, entah sebagai apa, namun apakah nama menjadi penting saat kerusuhan yang tidak seberapa besar dibanding apa yang sudah dilakukan kapital negara, dan kaum militerisme, kepada manusia dalam ruang hidup, serta sosialnya. Sebuah slogan dalam spanduk bertuliskan “LIBAS ANARKISME” pun muncul di media online, yang akhirnya, lagi-lagi black bloc hanya dianggap pembuat onar. Namun mereka melupakan sejarah hari buruh bahwa black bloc berada di barisan terdepan dengan taruhan nyawa mereka.

Apa yang terjadi paska May Day di Yogyakarta tidak berhenti begitu saja, penyisiran hingga penangkapan terhadap mahasiswa, dan pekerja seni terjadi hingga dini hari berikutnya secara menggila yang dilakukan oleh kepolisian. Saat pengacara publik Lembaga bantuan Hukum Yogyakarta (LBH-Yogyakarta), bernama Emmanuel Gobay melakukan upaya pun dalam merespon kawan-kawan yang mengalami kekerasan serta penahanan sebagai perlindungan badan hukum, pengacara tersebut menerima respon negatif dari pihak kepolisian, berupa represi kekerasan fisik oleh Mapolda DIY. Hal ini tentu menjadi satu poin bagi kita semua, bahwa represi militerisme berlangsung semena-mena. Namun seringkali, memilih tersenyum kepada pasukan itu, serta menuruti setiap kalimat yang dimintanya dengan alasan “kita aksi damai”, “kita tidak suka kekerasan”.

Apa yang dialami black bloc Yogyakarta seharusnya menjadi renungan, apa sebenarnya makna perlawanan. Aku yakin, mereka tidak akan melakukan kerusuhan dengan melakukan kekerasan kepada manusia lain, karena mereka melakukan ini sebagai solidaritas. Dalam video kerusuhan tersebut, sudah jelas, beberapa oknum penyusup terlibat, dan black bloc tidak merusak atau melemparkan molotovnya kepada manusia selain ke pos polisi di jalan raya.  Sayangnya, beragam tulisan pembelaan telah menjatuhkan perjuangan perlawanan tanpa merenung, dan berpikir bagaimana dengan nasib para black bloc yang juga manusia, apakah mereka terjamin keselamatannya? Apakah sekarang mereka dapat membela diri atas perjuangannya?

Menutup tulisan ini, aku hanya ingin membuat sebuah pernyataan bagi gerakan perlawanan apa pun, bagi manusia di mana pun, di Indonesia: “Kerusuhan yang kreatif selalu berangkat dari kehancuran budaya, dan hanya akan mampu dimengerti oleh mereka yang tidak membuat label dalam dirinya. Tentu saja, para pengikut budaya semu akan menolaknya dengan mengatakan mereka sebagai pembuat onar yang anarkisme, karena bagi mereka, sebuah aksi adalah tertib terstruktur dalam objek yang dituju oleh ranah pendanaan.” Bagaimana pun, black bloc sangat memahami apa itu art of riot dan squatting, dan terpenting, mereka memahami dengan sangat baik secara kesadarannya tentang makna solidaritas kemandirian atau Do It Yourself (DIY), walau taruhan mereka adalah nyawa, karena Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tidak lain Sri Sultan Hamengkubuwana X, Raja Kasultanan Yogyakarta. Tidakkah ini kabar baik dalam sejarah baik dalam perlawanan?!

Tautan jejak:

 

Free Markets & Capitalism?
Markets Not Capitalism
Organization Theory
Conscience of an Anarchist