Oleh: Aurora Apolito. Teks aslinya berjudul “Antifascism and Historical Memory”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ringo
Support Ringo by considering becoming his Patron.
Saya tidak menulis ini untuk membahas strategi politik atau jargon ideologis. Saya menulisnya karena sejarah, karena ingatan, dan karena rasa takut yang terasa sangat akrab. Saya tumbuh di sebuah negara Eropa yang memikul beban sejarah yang berat: tempat lahirnya fasisme. Sejak kecil, kesadaran itu sudah menjadi bagian dari hidup saya. Bahkan kalender nasional kami menyimpannya. Ada satu hari libur yang didedikasikan untuk mengenang Perlawanan Anti-Fasis, hari ketika pada 1945 para partisan membebaskan kota-kota industri besar dari tentara Nazi-Fasis Republik Salò. Saya membenci nasionalisme dan tidak pernah benar-benar menyukai hari libur nasional. Namun jika memang harus ada satu, hari itulah yang masih bisa saya terima. Bukan karena negara, melainkan karena orang-orang di dalamnya. Orang tua saya masih remaja ketika perang itu berlangsung. Mereka terlibat langsung dalam perlawanan bersenjata. Kakek saya dipenjara di kamp konsentrasi Nazi. Bagi keluarga saya, anti-fasisme bukan sekadar teori. Ia adalah bagian dari sejarah keluarga kami.
Ingatan semacam ini penting. Negara-negara yang pernah hidup di bawah fasisme menyimpannya bukan karena nostalgia, melainkan karena kewaspadaan. Saat saya tumbuh dewasa, lama setelah perang berakhir, ada satu pelajaran yang terasa sangat jelas: anti-fasisme tidak pernah benar-benar selesai. Ia tidak pernah pensiun, karena fasisme sendiri tidak pernah sepenuhnya mati.
Fasisme tetap ada, bersembunyi sebagai cara berpikir. Ia hadir sebagai pembenaran atas kekerasan, sebagai pemujaan terhadap kekuatan dan ketertiban, serta sebagai romantisasi kemurnian bangsa di masa lalu. Ia muncul dalam nasionalisme yang agresif, dalam misogini, dalam rasisme, dan dalam ketakutan obsesif terhadap “yang lain”: para imigran, feminis, orang-orang yang melanggar norma gender, kaum kosmopolitan, dan orang Yahudi. Daftarnya selalu berubah, tetapi polanya tetap sama.
Yang menahan fasisme pada masa pasca-perang bukanlah keajaiban demokrasi, melainkan budaya anti-fasis yang terus hidup di tengah masyarakat. Ibu saya, bersama banyak orang lain, menyembunyikan senapan-senapan bekas brigade partisan, dikubur di halaman belakang gudang tua. Mereka tidak meromantisasi kekerasan. Mereka hanya realistis. Mereka tahu bahwa suatu hari fasisme akan mencoba kembali, entah melalui pemilu yang dimanipulasi, kudeta, atau kekerasan jalanan.
Upaya-upaya itu memang datang. Banyak yang gagal, bukan karena sistem terlalu kuat, melainkan karena masyarakat siap melawan. Ketika fasisme tidak mampu menang secara terbuka, ia mengubah taktik. Ia mulai menyerang ingatan, merelatifkan sejarah, dan menyamarkan perbedaan moral. Dikatakan bahwa kaum anti-fasis juga melakukan kekerasan, bahwa semuanya sama saja, bahwa tidak ada perbedaan etis di antara mereka. Ini bukan argumen baru. Ini adalah cara lama untuk melemahkan barisan anti-fasis dari dalam.
Saya datang ke Amerika Serikat sebagai seorang ilmuwan, dan sulit bagi saya untuk tidak mengingat sejarah lain: gelombang ilmuwan Eropa yang melarikan diri ke Amerika pada 1930-an dan 1940-an. Mereka menyelamatkan diri dari fasisme, dan tanpa disadari ikut membentuk kekuatan geopolitik Amerika Serikat. Banyak keunggulan ilmiah dan teknologi negara ini lahir dari kehancuran Eropa akibat fasisme. Ketidakcocokan antara fasisme dan kehidupan intelektual menjadikan Amerika Serikat tujuan pelarian.
Ironisnya, kini saya menyaksikan Amerika Serikat bergerak ke arah yang sama. Jalurnya terasa sangat familiar. Kepatuhan palsu terhadap demokrasi, sambil perlahan menggerogotinya dari dalam. Pemilu yang dipertanyakan. Supremasi hukum yang dilemahkan. Brutalitas polisi yang dinormalisasi. Dan kebebasan berbicara yang dipelintir untuk melindungi propaganda kekerasan. Semua ini pernah kami lihat sebelumnya. Kami tahu seperti apa bentuknya.
Sekarang, saya kembali menjadi orang yang pergi. Saya berkemas dan pindah ke Kanada secepat mungkin. Namun pengalaman ini membuat saya terus memikirkan mereka yang tidak memiliki pilihan tersebut: mereka yang tidak memiliki paspor “yang tepat”, profesi langka, atau jaringan internasional. Orang tua saya tidak bisa pergi. Mereka lahir ketika fasisme sudah berkuasa. Pilihannya sederhana sekaligus kejam: menerima atau melawan.
Itulah sebabnya anti-fasisme hari ini bukan sekadar nostalgia atau simbol. Ia adalah kebutuhan yang mendesak. Bahaya yang kita hadapi sekarang jauh lebih besar dibandingkan abad ke-20, karena dunia memiliki daya hancur yang jauh lebih canggih. Seruan untuk bersikap santun terhadap fasisme, atau menghadapinya semata-mata lewat debat sopan, mengabaikan satu kenyataan mendasar: fasisme tidak pernah bermain jujur. Ia menggunakan aturan hanya untuk menghancurkannya.
Sejarah sudah berteriak cukup keras. Pertanyaannya bukan lagi apakah tanda-tandanya ada. Pertanyaannya hanya satu: siapa yang masih mau mendengarkan?
Seluruh hasil publikasi didanai sepenuhnya oleh donasi. Jika kalian menyukai karya-karya kami, kalian dapat berkontribusi dengan berdonasi. Temukan petunjuk tentang cara melakukannya di halaman Dukung C4SS: https://c4ss.org/dukung-c4ss.






